JAKARTA, BisnisMarket.com - Siapkan dompet Anda lebih tebal! Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah, langkah besar Badan Energi Internasional (IEA) melepaskan 400 juta barel minyak mentah dari cadangan darurat ternyata hanya ampuh menahan gejolak sesaat. Para ekonom dan analis komoditas sepakat, jurus senilai sekitar Rp 6 triliun ini lebih mirip plester daripada obat mujarab untuk menghentikan amuk harga minyak dunia yang terus meroket. Mampukah pasokan darurat ini membendung potensi lonjakan harga hingga US$200 per barel (sekitar Rp 3 miliar) seperti peringatan Iran?

Jurus IEA: Beli Waktu, Bukan Solusi Jangka Panjang

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa pelepasan 400 juta barel minyak oleh negara anggota IEA merupakan langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Namun, dampaknya diperkirakan hanya bersifat sementara. "Artinya, langkah IEA lebih tepat dibaca sebagai bantalan darurat untuk membeli waktu, bukan solusi satu-satunya yang bisa mengakhiri lonjakan harga minyak," ujarnya dilansir dari Bloomberg Technoz (15/3).

Pelepasan cadangan ini, meskipun signifikan, hanya setara dengan sekitar 20 hari arus perdagangan yang melewati Selat Hormuz yang krusial. Kebutuhan minyak dunia tahun ini pun hanya tercukupi sekitar 3,8 hari dari jumlah yang dilepas. Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama, yaitu potensi penutupan Selat Hormuz akibat konflik, belum terselesaikan.

Akar Masalah: Konflik dan Ketidakpastian Logistik

Analis komoditas, Sutopo Widodo, menambahkan bahwa guyuran minyak dari IEA hanya mampu menambal sebagian kecil dari defisit pasokan harian akibat lumpuhnya Selat Hormuz. "Selama risiko infrastruktur permanen dan premi risiko perang masih membayangi jalur distribusi fisik, langkah IEA ini cenderung hanya menjadi 'obat penenang' sementara," jelasnya.

Penghambat utama kenaikan harga minyak justru terletak pada ketidakpastian logistik dan lonjakan biaya asuransi pengiriman di wilayah konflik. Pasar kini lebih didorong oleh ketakutan akan kelangkaan stok di tengah pasokan dunia yang semakin ketat. Fenomena psikologis ini diperparah oleh aksi spekulan yang melihat intervensi darurat sebagai sinyal bahaya, memicu aksi beli lindung nilai untuk mengantisipasi kelangkaan yang lebih parah di masa depan.

Ancaman Iran: Harga Minyak Bisa Tembus Rp 3 Miliar!

Di tengah situasi yang memanas, Iran justru memberikan peringatan keras. Juru bicara komando militer Iran memperingatkan pasar energi global untuk bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel (sekitar Rp 3 miliar) jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. "Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka US$200/barel," tegasnya.