JAKARTA, BisnisMarket.com - Ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah bukan lagi sekadar berita internasional yang jauh dari keseharian kita. Eskalasi ini ternyata menyimpan potensi ancaman nyata yang bisa merembet hingga ke jantung perekonomian Indonesia. Bayangkan saja, gejolak di belahan dunia lain bisa membuat harga-harga di pasar domestik melonjak tak terkendali, bahkan menggerogoti daya beli masyarakat. Namun, jangan panik dulu! Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyiapkan strategi jitu untuk membentengi sektor jasa keuangan Indonesia dari badai krisis global yang mengintai.

Ancaman Nyata dari Panggung Dunia

Ketua Dewan Komisoner OJK, Friderica Widyasari Dewi, atau yang akrab disapa Kiki, memberikan peringatan keras mengenai dampak tensi geopolitik global terhadap perekonomian. "Eskalasi yang terjadi imbas tensi geopolitik di Timur Tengah berpotensi mempengaruh perekonomian di dunia, tak terkecuali Indonesia," ujarnya dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Senin (6/4/2026) dilansir dari Bloomberg Technoz. Ia menekankan bahwa situasi ini dapat memicu distrupsi rantai pasok energi, yang secara otomatis akan mendongkrak harga minyak dan komoditas lainnya. Dampak lanjutan yang paling dikhawatirkan adalah lonjakan inflasi global serta penurunan daya beli masyarakat secara agregat.

Bahkan, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbarunya terpaksa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi sejumlah negara. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak tensi geopolitik yang terjadi. Laporan OECD tersebut mengindikasikan bahwa ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah telah menciptakan gelombang kekhawatiran yang meluas di kalangan pelaku ekonomi dunia.

Strategi Jitu OJK Hadapi Gejolak

Menghadapi potensi ancaman tersebut, OJK tidak tinggal diam. Kiki menegaskan pentingnya lembaga jasa keuangan untuk melakukan analisis data atau asesmen lanjutan dengan pandangan berorientasi ke depan. "Kemudian juga mencermati secara intensif kinerja debitur, serta menjaga kecukupan likuiditas dan juga permodalan," tegasnya. Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa setiap lembaga keuangan memiliki pemahaman mendalam mengenai risiko yang dihadapi dan siap mengambil tindakan preventif.

OJK mendorong agar manajemen risiko diperkuat secara signifikan. Ini berarti setiap lembaga jasa keuangan harus mampu mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan berbagai jenis risiko yang mungkin timbul akibat ketegangan geopolitik, termasuk risiko pasar, risiko kredit, dan risiko operasional. Dengan manajemen risiko yang solid, sektor jasa keuangan diharapkan dapat meredam dampak negatif gejolak eksternal.


Friderica Widyasari Dewi. (Tangkapan Layar Instagram @fridericawidyasari)

Sektor Jasa Keuangan Tetap Kokoh?

Meskipun prospek perekonomian global dihadapkan pada tantangan, Kiki meyakini bahwa kinerja sektor jasa keuangan Indonesia sejauh ini masih terpantau stabil. "Meski demikian, ia meyakini bahwa kinerja sektor jasa keuangan masih terpantau stabil mengacu pada permodalan yang kuat, likuditas yang memadai dan risiko yang terjaga," ungkapnya. Stabilitas ini didukung oleh fondasi permodalan yang kuat, ketersediaan likuiditas yang memadai, dan tingkat risiko yang terkendali dengan baik.