BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat teknologi kendaraan listrik (EV) bukan satu-satunya disrupsi yang melanda industri otomotif global. Kabar mengenai masuknya robot ke lini produksi pabrik-pabrik mobil telah menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan pekerja manusia akan hilangnya pekerjaan.

Situasi ini mendorong karyawan Hyundai di Korea Selatan untuk melakukan aksi mogok kerja yang berlangsung selama tiga hari. Aksi tersebut dipicu oleh kebuntuan negosiasi upah antara serikat pekerja dan manajemen perusahaan.

"Kami prihatin dengan masa depan kami di tengah kemajuan teknologi robotika yang semakin pesat di lini produksi," ujar salah satu perwakilan serikat pekerja Hyundai.

Meskipun tuntutan utama aksi mogok ini adalah terkait negosiasi upah, isu otomatisasi menjadi latar belakang yang semakin mengemuka dalam diskusi antara pekerja dan pihak manajemen.

Aksi mogok yang berlangsung selama tiga hari ini, menurut sejumlah pekerja, merupakan bentuk protes atas lambannya kemajuan dalam perundingan kenaikan upah yang telah berjalan cukup lama.

"Kami merasa perlu mengambil langkah tegas untuk menunjukkan keseriusan kami dalam menuntut keadilan upah yang layak," kata seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya.

Pihak manajemen Hyundai, seperti dilaporkan di sumber aslinya, belum memberikan pernyataan resmi yang mendetail mengenai dampak langsung dari mogok kerja ini terhadap jadwal produksi.

Namun, aksi ini mengindikasikan adanya ketegangan yang perlu segera diatasi untuk menjaga stabilitas operasional dan hubungan industrial di perusahaan otomotif sebesar Hyundai.

Perundingan upah yang mandek menjadi pemicu langsung, namun kekhawatiran akan pergeseran tenaga kerja manusia oleh robot menjadi isu pelengkap yang memperberat suasana.