JAKARTA, BisnisMarket.com - Bayangkan sebuah urat nadi raksasa yang menyuplai kehidupan bagi jutaan orang, tiba-tiba terancam putus. Itulah gambaran yang mungkin terlintas saat mendengar kabar bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, berpotensi lumpuh akibat memanasnya tensi ketegangan geopolitik antara Iran vs AI ( Amerika Serikat dan Israel). Di tengah kekhawatiran global ini, PT Pertamina (Persero) tak tinggal diam. Perusahaan energi nasional ini bergerak cepat, menyiapkan strategi jitu untuk mengamankan pasokan minyak demi keberlangsungan energi di tanah air melalui rute alternatif. Mampukah Pertamina menavigasi badai krisis ini?
Ancaman Nyata di Selat Hormuz
Selat Hormuz, sebuah perlintasan sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman, memegang peranan krusial dalam perdagangan energi global. Sebagian besar minyak mentah dunia melintasi jalur ini setiap harinya. Namun, ketegangan yang meningkat antara Iran vs AI menciptakan awan gelap di atas perairan strategis ini. Potensi gangguan distribusi impor minyak dunia menjadi momok yang menghantui, termasuk bagi Indonesia yang bergantung pada impor minyak mentah.
Menanggapi situasi genting ini, Head of Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa perusahaan terus memantau perkembangan jalur pelayaran global. "Pertamina terus memonitor kondisi jalur pelayaran global dan menyiapkan skenario alternatif rute pengiriman apabila terjadi gangguan pada jalur utama, guna memastikan distribusi energi tetap berjalan dengan aman," ujarnya dilansir dari Bloomberg Technoz pada Selasa, (17/3/2026). Pernyataan ini mengindikasikan kesiapan Pertamina dalam menghadapi skenario terburuk sekalipun.
Diversifikasi Pasokan dan Rute Pengiriman: Kesiapan Pertamina
Tak hanya memikirkan rute pengiriman, Pertamina juga gencar melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak mentah. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan berbagai aspek krusial, mulai dari aspek komersial, teknis kilang, hingga kepatuhan terhadap regulasi internasional. "Pertamina melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak dengan mempertimbangkan aspek komersial, teknis kilang, serta kepatuhan terhadap regulasi internasional," jelas Baron.
Koordinasi erat dengan pemerintah, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menjadi kunci utama dalam memastikan ketersediaan pasokan energi nasional. "Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian ESDM, untuk memastikan pasokan energi bagi kebutuhan nasional dapat terpenuhi," tambahnya.
Lebih jauh lagi, Pertamina juga tengah mengevaluasi rencana penataan rantai perdagangan minyak, termasuk kemungkinan relokasi aktivitas perdagangan dari Singapura. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan transparansi perdagangan energi. "Pertamina masih dalam proses melihat dan penataan secara bertahap guna meningkatkan efisiensi rantai pasok dan transparansi perdagangan energi," kata Baron.
Stok Aman, Produksi Maksimal