BISNISMARKET.COM - Sejak akhir Agustus 2025, masyarakat di sejumlah kota besar dibuat resah oleh fenomena kelangkaan BBM di SPBU swasta, terutama jaringan Shell. Banyak konsumen mendapati pom bensin kosong, sebagian bahkan terpaksa putar balik karena produk bensin yang dibutuhkan tidak tersedia. 

Kondisi ini menyebabkan antrean bergeser ke SPBU Pertamina, dengan waktu tunggu yang lebih lama, serta memunculkan isu pengurangan jam kerja hingga PHK pegawai di beberapa titik operasional.

Penyebab kekosongan stok ini ternyata cukup kompleks. Dari sisi kebijakan, pemerintah menyatakan kuota impor untuk badan usaha swasta pada tahun 2025 justru dinaikkan 10 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Namun, pelaku usaha menilai realisasi impor tidak semudah itu, karena terkendala birokrasi, waktu proses, hingga persoalan logistik. Di sisi lain, sejumlah proyek kilang nasional seperti RDMP Balikpapan baru akan beroperasi penuh pada akhir tahun, sehingga ruang untuk menambah pasokan domestik masih terbatas.

Fenomena ini juga memperlihatkan dinamika persaingan di pasar BBM non-subsidi. Publik yang sebelumnya memilih mengisi BBM di SPBU swasta karena dianggap lebih baik, kini kembali berbondong-bondong ke SPBU Pertamina. Situasi tersebut memunculkan persepsi menurunnya kepercayaan terhadap Pertamina, sekaligus kritik terhadap swasta yang dinilai belum mampu mengamankan pasokan.

Pemerintah menegaskan solusi paling realistis untuk meredam krisis adalah kolaborasi antara swasta dengan Pertamina. Pertamina sendiri menyatakan siap menyalurkan BBM jika ada permintaan resmi dari operator swasta. Di sisi lain, masyarakat berharap adanya transparansi dalam pengelolaan kuota impor, serta percepatan proyek kilang agar ketergantungan pada impor berkurang.

Pada akhirnya, kasus “SPBU Shell kosong” ini bukan sekadar isu pasokan, melainkan ujian bagi koordinasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta dalam menjaga stabilitas energi nasional. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bukan hanya pada konsumen, tetapi juga pada iklim persaingan usaha yang sehat di sektor BBM.***