BISNISMARKET.COM - Ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari telah memberikan tekanan signifikan terhadap pasar komoditas global, khususnya pada harga pistachio. Kondisi ini mendorong harga kacang premium tersebut mencapai level tertinggi yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Kenaikan harga ini terjadi bersamaan dengan melonjaknya permintaan konsumen terhadap produk olahan kacang, seperti cokelat Dubai yang sempat viral dan berbagai jenis pastry berbasis pistachio. Gangguan pada jalur perdagangan regional turut memperumit proses ekspor dari Iran, yang merupakan salah satu produsen utama dunia.

Konflik yang berdampak pada jalur pelayaran dan perdagangan regional ini menekan pasar yang sudah mengalami ketat. Sebagai salah satu pemasok utama, kesulitan ekspor dari Iran semakin memperparah pengetatan pasokan yang sudah terjadi sebelumnya.

"Ini seperti bertaruh - kami tidak tahu harus menjual di harga berapa," ujar Behnam Heydaripour, Chief Executive Wholesaler Borna Foods yang berbasis di London, Dikutip Senin (27/4/2026).

Menurut data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Iran secara historis menyumbang sekitar seperlima dari total produksi pistachio global, bahkan pernah mencapai 25 hingga 30 persen dari ekspor dunia. Namun, perang antara AS dan Israel terhadap Iran telah mengacaukan logistik di Timur Tengah, membuat pengiriman hasil panen Iran semakin sulit.

"Perang ini memperbesar hambatan yang sudah ada, bukan menciptakan masalah baru dari nol," jelas Nick Moss, analis dari Expana, seraya menambahkan bahwa berbagai persoalan kini saling menumpuk.

Expana mencatat bahwa harga pistachio sempat melonjak hingga mencapai sekitar US$4,57 per pon pada bulan Maret, menandai rekor tertinggi sejak tahun 2018. Lonjakan permintaan ini sebagian besar dipicu oleh tren global cokelat Dubai, batangan cokelat berisi krim pistachio yang populer di media sosial sejak tahun 2023.

Namun, masalah pasokan sebenarnya sudah terjadi bahkan sebelum pecahnya konflik terbaru. Panen tahun 2025 di beberapa produsen kunci seperti Amerika Serikat, Turki, dan Iran dilaporkan berada di bawah ekspektasi, dengan hasil panen Iran khususnya terpukul akibat kekeringan parah yang melanda wilayah tersebut.

Ekspor Iran juga sebelumnya sudah terhambat oleh sanksi internasional dan gejolak domestik yang terjadi. Pemutusan komunikasi internet secara berkala sepanjang tahun ini menyulitkan eksportir untuk berkoordinasi secara efektif dengan pembeli internasional, memperlambat pergerakan barang bahkan sebelum pertempuran dimulai.