JAKARTA, BisnisMarket.com – Ensign InfoSecurity (Ensign), penyedia layanan keamanan siber terbesar di Asia, meluncurkan inisiatif baru berupa lokakarya simulasi imersif untuk memperkuat ketahanan siber para pemimpin teknologi senior di Indonesia. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan krisis dan pengambilan keputusan di tengah meningkatnya ancaman siber.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, Ensign menggandeng ICIO Community, wadah keanggotaan terkemuka bagi para pemimpin teknologi dan bisnis senior di Indonesia, sebagai mitra komunitas untuk menghadirkan pengalaman praktis ini kepada anggotanya.

Pelatihan yang diberi tajuk "From Threat to Action: Cyber Simulation Experience" ini akan membawa peserta masuk ke dalam skenario krisis siber yang terfasilitasi. Di bawah bimbingan spesialis keamanan siber dan respons insiden Ensign, peserta akan melalui alur respons praktis, mulai dari deteksi awal gangguan, penahanan, respons, pemulihan, hingga pengelolaan pemangku kepentingan.

Simulasi ini menantang para pemimpin untuk tidak hanya fokus pada respons teknis, tetapi juga mempertimbangkan aspek keberlangsungan bisnis, koordinasi internal, dampak kepada pelanggan, kepatuhan regulasi, serta komunikasi strategis.

Kebutuhan Mendesak di Tengah Ancaman Meningkat

Inisiatif ini hadir pada momentum krusial. Laporan Ensign Cyber Threat Landscape 2025 menyoroti menguatnya ekonomi bawah tanah di Asia Pasifik, di mana kelompok ransomware, Initial Access Brokers, dan hacktivist semakin sering beroperasi secara terkoordinasi. Kolaborasi antar pelaku ancaman ini menghasilkan serangan siber yang lebih canggih dan berdampak besar, menegaskan perlunya pengujian pertahanan secara nyata.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) turut mendukung urgensi ini. Pada April tahun ini, BSSN melaporkan lonjakan serangan siber di Indonesia, dengan 5,5 miliar serangan tercatat sepanjang 2025, dan diperkirakan akan terus meningkat pada 2026.

Adithya Nugraputra, Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, menyatakan bahwa momen paling berbahaya dalam krisis siber adalah saat para pemimpin harus mengambil keputusan besar tanpa pernah berlatih menghadapinya.

"Pelatihan simulasi ini memberikan kesempatan kepada para pemimpin teknologi Indonesia untuk berlatih mengalami langsung tekanan sebuah insiden nyata dan mempertajam respons mereka sebelum serangan sesungguhnya terjadi," ujar Adithya dalam keterangan resminya.