IRAN, BisnisMarket.com – Ketika rudal pertama menghantam Teheran pada akhir Februari 2026, detak jantung pasar finansial dunia berhenti sejenak sebelum akhirnya meledak dalam kepanikan.

Di tengah jatuhnya nilai saham dan mata uang kripto, ada satu aset yang justru memancarkan kilau paling terang: Emas.

Per hari ini, 1 Maret 2026, harga emas dunia telah menembus batas psikologis baru, mengukuhkan posisinya sebagai benteng terakhir investor di masa perang.

Pasca-konfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, harga emas spot internasional dilaporkan melonjak tajam.

Posisi Terkini: Emas berjangka di bursa COMEX telah melewati angka $5.300 per troy ounce, naik lebih dari 3% hanya dalam hitungan hari.

Prediksi Analis: Para ahli dari Bank of America dan MKS PAMP memprediksi bahwa jika eskalasi terus berlanjut tanpa de-eskalasi dalam waktu dekat, emas bisa melesat menuju $6.000 hingga $6.750 per troy ounce sebelum akhir tahun 2026.

Fenomena ini dikenal sebagai flight to safety (pelarian menuju keamanan). Ada tiga faktor utama yang mendorong kegilaan belanja emas saat ini:

Ketidakpastian Geopolitik: Emas tidak memiliki risiko gagal bayar (default). Saat negara-negara besar terlibat konflik, kepercayaan pada mata uang fiat (seperti Dolar atau Euro) goyah, dan investor beralih ke aset fisik.

Hedge Terhadap Inflasi: Perang ini memicu kenaikan harga minyak dunia (Brent melewati $80-$90/barel). Kenaikan energi berarti inflasi global akan melonjak. Emas secara historis adalah pelindung nilai terbaik terhadap penurunan daya beli akibat inflasi.