BISNISMARKET.COM - Drone bunuh diri Shahed Iran kini menjelma menjadi instrumen vital dalam strategi peperangan modern yang dihadapi oleh Amerika Serikat dan Israel. Setelah eskalasi ketegangan menyusul serangan militer oleh Presiden AS Donald Trump dan PM Benjamin Netanyahu ke Teheran pada 28 Februari, drone yang juga digunakan Rusia di Ukraina ini dilaporkan membalas serangan dengan menghantam Tel Aviv serta beberapa instalasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Meskipun secara kasat mata Shahed tampak sederhana dibandingkan senjata mutakhir lainnya, bahkan dijuluki sebagai 'rudal jelajah miskin' oleh beberapa analis, efektivitasnya terbukti nyata. Drone ini kerap berhasil menembus sistem pertahanan canggih lawan, termasuk sistem rudal Patriot, dan mengenai sasaran yang dituju. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mencatat adanya 941 drone Iran yang mencoba menyerang wilayah mereka, di mana 65 di antaranya jatuh dan menimbulkan kerusakan pada infrastruktur sipil seperti hotel dan pelabuhan.
Keunggulan utama drone ini terletak pada kemampuan produksi massalnya yang relatif murah, suatu kontras tajam dengan biaya sistem pertahanan yang digunakan untuk melawannya. Para pakar menilai bahwa varian Shahed ideal untuk melancarkan serangan beruntun dalam skala besar, yang secara signifikan akan membebani kapasitas pertahanan udara musuh. Hal ini memungkinkan negara seperti Iran menimbulkan kerugian yang tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.
Patrycja Bazylczyk, analis di Proyek Pertahanan Rudal di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington DC, menyoroti dampak strategis ini dalam kutipannya kepada CNBC International, Jumat (6/3/2026). Ia menyatakan bahwa sistem seperti Shahed-136 memungkinkan negara-negara seperti Rusia dan Iran memaksakan biaya yang tidak proporsional, memaksa musuh menghabiskan pencegat mahal untuk drone berbiaya rendah. Selain itu, serangan ini menciptakan tekanan psikologis berkelanjutan pada populasi sipil.
Menurut laporan pemerintah AS, Shahed-136 diklasifikasikan sebagai kendaraan udara tak berawak serang satu arah yang diproduksi oleh entitas terkait Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Perkiraan harga drone ini berkisar antara US$20.000 (Rp 336 juta) hingga US$50.000 (Rp 840 juta). Behnam Ben Taleblu, direktur senior program Iran di Foundation for Defense of Democracies, menyebutnya sebagai 'rudal jelajah untuk orang miskin' yang memberikan gangguan biaya rendah, sebuah keuntungan besar bagi Iran yang terhantam sanksi internasional.
Perbedaan biaya ini menciptakan dilema serius bagi negara-negara Teluk dan Israel, di mana satu unit pencegat pertahanan udara bisa mencapai US$3 juta hingga US$12 juta. Dalam perang gesekan, drone dapat digunakan untuk menguras inventaris rudal pertahanan lawan sebelum melancarkan serangan yang lebih merusak dengan aset berharga. Bazylczyk dari CSIS menambahkan, logikanya adalah menggunakan drone terlebih dahulu sambil menyimpan rudal balistik untuk sasaran jangka panjang.
Meskipun AS telah berupaya mengganggu rantai pasokan komponen Shahed melalui sanksi baru terhadap pemasok di Turki dan UEA, produksi massal oleh Rusia menunjukkan skalabilitas teknologi ini di tengah embargo. Para pejabat AS mengklaim Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone hingga Rabu, dan ahli militer memperkirakan Iran mampu memproduksi ratusan unit lagi setiap minggunya. Bahkan, AS dilaporkan telah melakukan rekayasa balik dan menggunakan versi drone yang dimodelkan dari Shahed dalam pertempuran untuk pertama kalinya melawan target Iran, menurut Komando Pusat AS.