BISNISMARKET.COM - Setelah melewati tekanan resesi global, industri kulit Indonesia mulai menata ulang arah bisnisnya dengan strategi yang lebih adaptif. Pelaku industri kini menyasar sektor fashion yang berorientasi pada keberlanjutan untuk menjamin kelangsungan usaha.
Produk seperti sepatu dan tas kulit kini menjadi simbol strategi bertahan yang cerdas. Produk-produk ini menggabungkan nilai estetika, daya tahan, dan kesadaran lingkungan dalam satu paket yang relevan.
Sebagai sektor padat karya, industri kulit memegang peran vital dalam menyerap tenaga kerja dan mendukung rantai pasok global. Sektor ini juga menjadi tulang punggung bagi perkembangan industri kreatif dan fashion lokal.
Di tengah bayang-bayang resesi global, pelaku industri kulit di Bogor justru melihat peluang baru di segmen fashion. Alih-alih bertahan di pasar tradisional, mereka beralih ke produksi alas kaki dan tas kulit yang lebih dinamis.

PT Mastrotto Indonesia, pemain utama di industri penyamakan kulit, mengambil langkah strategis dengan berekspansi ke sektor fashion. Ekspansi ini menandai babak baru perusahaan setelah dua dekade fokus pada kulit untuk upholstery dan otomotif.
Hans Koeswanto, Direktur PT Mastrotto Indonesia, menyambut positif langkah strategis ini. "Kami harus terus beradaptasi dan berkontribusi di pasar global yang terus berubah," jelas Hans, dalam keterangan resminya, Kamis (28/8/2025).
Menurut Hans, alas kaki dan tas memiliki siklus permintaan yang lebih stabil dan luas, khususnya di pasar domestik dan Asia Tenggara. Produk fashion juga memberi ruang lebih besar untuk inovasi desain dan storytelling yang meningkatkan nilai tambah.
Dia menambahkan, ekspansi ini memungkinkan perusahaan menjawab kebutuhan pasar tanpa meninggalkan identitasnya. Langkah ini membuka peluang untuk tumbuh lebih kuat dan relevan di era pasca-krisis.