JAKARTA, BisnisMarket.com — Rivalitas klasik antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya kembali memanas menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Namun, kali ini tensi tinggi tidak hanya terjadi di dalam lapangan, melainkan di balik layar. Isu mengenai Timnas Iran yang merasa "diabaikan" dan dipersulit oleh pihak tuan rumah Amerika Serikat dalam hal administrasi kini tengah menjadi sorotan hangat pengamat sepak bola internasional.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa hubungan diplomatik kedua negara selalu berada di titik didih. Menjelang turnamen akbar yang digelar di AS, Meksiko, dan Kanada ini, kubu Iran sempat mengeluhkan lambatnya proses birokrasi, pengurusan visa untuk staf pendukung, hingga minimnya sorotan media Barat terhadap persiapan Team Melli.

Meski mendapat perlakuan dingin di luar lapangan, skuad asuhan Amir Ghalenoei justru dinilai mendapatkan motivasi tambahan untuk membuktikan diri.

Hambatan Logistik dan Isu Visa yang Memperkeruh Suasana

Menurut laporan beberapa media olahraga Timur Tengah, delegasi Timnas Iran menghadapi proses pemeriksaan yang jauh lebih ketat dan memakan waktu dibanding negara peserta lainnya saat mengurus dokumen masuk ke Amerika Serikat. Sanksi ekonomi dan pembatasan perjalanan yang masih berlaku membuat persiapan logistik Team Melli sempat terhambat.

Bagi publik Iran, sikap dingin yang ditunjukkan pihak otoritas AS ini dianggap sebagai bentuk pengabaian sengit yang sengaja dirancang untuk mengganggu fokus mental para pemain jelang laga-laga krusial di fase grup.

Menolak Tunduk, Team Melli Gunakan Tekanan Sebagai Bahan Bakar

Sejarah mencatat bahwa Timnas Iran adalah tim yang justru tampil mengerikan saat diremehkan atau ditekan. Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, Iran berhasil mengalahkan Amerika Serikat dengan skor 2-1 dalam pertandingan yang sarat akan aroma politik. Memori itu kini dihidupkan kembali.

Lini depan yang dipimpin oleh penyerang berpengalaman Inter Milan, Mehdi Taremi, dan striker tajam Sardar Azmoun, menegaskan bahwa fokus mereka 100 persen berada di atas rumput hijau, bukan pada urusan politik luar negeri.