BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) baru-baru ini merilis data mengenai perkembangan uang primer di Indonesia per bulan April 2026. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam peredaran uang tunai dan giro bank yang dipegang oleh sistem perbankan.

Menurut catatan resmi BI, total nilai Uang Primer atau yang dikenal sebagai M0 pada periode tersebut berhasil menyentuh angka Rp2.232,2 triliun. Angka ini menandai pertumbuhan yang cukup substansial jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tahunan (year on year/yoy) untuk M0 pada April 2026 tercatat mencapai 14,3%. Angka ini mengindikasikan adanya dinamika yang menarik dalam likuiditas sistem keuangan nasional saat itu.

Dilansir dari CNBC Indonesia, peningkatan ini dikonfirmasi langsung oleh Bank Indonesia pada hari Jumat, 8 Mei 2026. Informasi ini disampaikan melalui siaran pers resmi yang dikeluarkan oleh otoritas moneter tersebut.

Perlu dipahami bahwa Uang Primer (M0) yang dihitung dalam konteks ini adalah M0 Adjusted. Konsep ini dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih bersih mengenai perkembangan uang primer setelah mengesampingkan dampak dari insentif likuiditas yang diberikan BI.

"Uang Primer (M0) Adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas," demikian dikutip CNBC Indonesia dari siaran pers BI, Jumat (8/5/2026).

Perkembangan positif dalam M0 Adjusted ini merupakan cerminan dari dua komponen utama yang mengalami kenaikan. Komponen tersebut adalah pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia yang disesuaikan dan juga peningkatan uang kartal yang beredar di masyarakat.

Faktor pendukung utama dari pertumbuhan ini adalah kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 21,6% secara yoy. Selain itu, uang kartal yang diedarkan kepada publik juga mengalami pertumbuhan sebesar 14,6% secara tahunan.

Pertumbuhan M0 Adjusted ini juga disebut telah memperhitungkan pengaruh dari kebijakan pengendalian moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia melalui pemberian insentif likuiditas. Hal ini memberikan perspektif yang lebih akurat mengenai kondisi likuiditas riil.