JAKARTA, BisnisMarket.com - Menumbuhkan keinginan untuk berwirausaha seringkali muncul dari aspirasi menciptakan peluang baru atau menambah penghasilan, terutama bagi kalangan muda. Namun, langkah awal seringkali menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang minim pengalaman bisnis, akses mentor, atau sumber daya memadai.
Situasi ini dihadapi oleh Agasthea Viorent, atau akrab disapa Agas, seorang lulusan SMK Negeri 1 Banyuwangi yang kini berdomisili di Denpasar, Bali. Setelah menjajal berbagai profesi di sektor hospitality hingga menjadi pengemudi ojek daring, Agas bertekad merintis bisnis pertamanya. Dengan modal awal sekitar Rp500 ribu, ia memanfaatkan ChatGPT sebagai sparring partner sekaligus mentor virtual untuk mematangkan ide bisnisnya di bidang virtual assistant. Kini, bisnisnya melayani klien di sektor hospitality dengan tugas seperti komunikasi tamu, manajemen reservasi, hingga layanan remote concierge, baik untuk klien domestik maupun internasional dari Italia dan Prancis.
"Awalnya saya punya ide, tapi bingung harus mulai dari mana dan apa saja yang perlu disiapkan agar ide itu bisa dijalankan. Dengan ChatGPT, saya merasa seperti punya mentor bisnis yang bisa diajak diskusi, tempat saya bertanya banyak hal dan menyusun langkah-langkah bisnis dengan lebih jelas. Namun, keputusan akhir tetap berada sepenuhnya pada saya sebagai pemilik usaha," ujar Agas.
Pengalaman Agas menunjukkan bahwa kecerdasan buatan ini dapat menjadi alat bantu efektif. Berikut adalah tiga cara praktis menggunakan ChatGPT untuk merancang dan memulai usaha:
1. Jadikan ChatGPT sebagai Mentor Bisnis dan Rekan Berpikir
Langkah fundamental dalam membangun bisnis bukan selalu tentang mencari ide sebanyak mungkin, melainkan mengevaluasi realitas sebuah ide. Agas menggunakan ChatGPT untuk menguji kelayakan ide layanan virtual assistant yang ingin dikembangkannya di Bali. Ia memberikan konteks mengenai usia, lokasi, pengalaman, jenis layanan, serta target klien.
Selanjutnya, Agas meminta ChatGPT menerapkan kerangka The Truth, Diagnosis, Best Move, Action Plan, and Challenge untuk menganalisis kondisi pasar, menilai risiko, dan menentukan langkah bisnis secara objektif. Proses ini membantunya memperjelas target pelanggan, jenis layanan yang ditawarkan, hingga langkah awal yang realistis. Dengan fitur seperti ChatGPT Work, hasil penilaian ini dapat dikembangkan menjadi dokumen, spreadsheet, atau rencana kerja yang siap ditinjau lebih lanjut.
Contoh prompt yang dapat digunakan:
"Bertindaklah sebagai mentor usaha untuk membantu saya menguji ide bisnis saya. Saya tinggal di [kota/daerah], memiliki latar belakang di [pengalaman/latar belakang], dan ingin membangun usaha [jenis usaha] untuk membantu [target pelanggan]. Bantu saya menilai apakah ide ini realistis, siapa target pelanggan yang paling cocok, layanan apa yang bisa saya tawarkan terlebih dahulu, tantangan yang perlu saya antisipasi, dan langkah awal yang paling realistis dengan sumber daya yang saya miliki. Gunakan pendekatan The Truth, Diagnosis, Best Move, Action Plan, dan Challenge."
2. Pecah Ide Besar Menjadi Langkah Praktis
Setelah memiliki arah bisnis yang jelas, ChatGPT dapat membantu menyusun rencana 7 dan 30 hari pertama serta alur kerja sederhana untuk menata bisnis virtual assistant yang sedang dibangun. Proses ini memetakan kebutuhan, keterampilan, batasan layanan, dan strategi menjangkau calon klien, sehingga ide besar dapat bertransformasi menjadi langkah konkret yang sesuai dengan kapabilitas.
Dengan bantuan ChatGPT, Agas dapat memprioritaskan tugas dan mengidentifikasi langkah yang bisa ditunda. Hal ini membantunya beralih dari sekadar "punya ide" menjadi "ini langkah yang bisa saya mulai", sembari terus menyesuaikan setiap keputusan dengan kondisi, kemampuan, dan sumber daya yang ada.