BISNISMARKET.COM - PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) tengah mengintensifkan pengembangan bisnis yang berorientasi pada sektor penunjang industri minyak dan gas lepas pantai (offshore migas). Langkah strategis ini merupakan upaya perseroan untuk menangkap peluang cuan yang menjanjikan dalam segmen energi tersebut.
Presiden Direktur CBRE, Suminto Husin Giman, secara aktif mendorong dan memimpin upaya pengembangan bisnis di segmen penyediaan jasa penunjang operasional migas di laut. Hal ini sejalan dengan kebutuhan infrastruktur dan armada yang makin meningkat di sektor energi nasional.
Untuk memuluskan ambisi ekspansi ini, CBRE telah melaksanakan serangkaian langkah korporasi penting. Salah satu langkah utamanya adalah pelaksanaan rights issue yang direncanakan dapat menghimpun dana segar hingga mencapai nominal Rp 1,91 Triliun.
Dana hasil penerbitan saham baru tersebut diproyeksikan akan dialokasikan secara signifikan untuk berbagai keperluan ekspansi. Salah satu alokasi utama adalah pembelian armada kapal khusus yang mendukung kegiatan offshore migas.
"Salah satunya [dana rights issue] digunakan untuk pembelian kapal offshore sehingga diharapkan dapat mendongkrak kinerja bisnis," ujar Suminto Husin Giman, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.
Akuisisi kapal-kapal baru ini diharapkan akan secara langsung memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas dan kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. Hal ini menjadi kunci utama dalam strategi pertumbuhan CBRE ke depan.
Meskipun telah menetapkan fokus kuat pada sektor offshore, CBRE memastikan bahwa bisnis angkutan laut konvensional, khususnya di sektor tambang, tidak akan ditinggalkan. Kedua lini bisnis ini akan tetap menjadi pilar operasional perusahaan.
Namun, CBRE telah menetapkan target ambisius terkait kontribusi dari lini bisnis lepas pantai ini dalam portofolio keseluruhan mereka. Perusahaan berupaya agar utilisasi bisnis offshore dapat menyumbang porsi yang signifikan.
"Meski tidak meninggalkan bisnis angkutan laut sektor tambang, CBRE menargetkan utilisasi bisnis offshore bisa berkembang hingga 60% dari total portofolio," kata Suminto Husin Giman, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia.