BISNISMARKET.COM - Aset kripto terbesar dunia, Bitcoin, kembali menunjukkan ketidakstabilan signifikan menyusul meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian yang dipicu oleh memanasnya konflik antara Iran dengan pihak lain memaksa pasar global mengalami guncangan, yang berdampak langsung pada pergerakan harga Bitcoin. Meskipun sempat menunjukkan performa kuat, momentum penguatan aset digital ini kini terhambat oleh gejolak makro yang terjadi.
Mengutip data dari Bloomberg pada hari Jumat (6/3/2026), harga Bitcoin terpantau ambruk hingga 3,7% dan sempat menyentuh level US$70.650. Penurunan ini terjadi sehari setelah sebelumnya aset tersebut berhasil mencetak lonjakan sekitar 9% selama sesi perdagangan Amerika Serikat. Sejak ketegangan kawasan meningkat, pergerakan harga Bitcoin menjadi sangat liar, ditandai dengan fluktuasi tajam antara kenaikan dan penurunan signifikan hampir setiap hari.
Sepanjang minggu berjalan, investor aset kripto sempat menunjukkan optimisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pelaku pasar di sektor lain seperti saham dan emas. Optimisme itu muncul setelah pasar dibuka kembali menyusul aksi militer antara AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan sebelumnya, di mana aset tradisional mengalami aksi jual besar-besaran.
Michael Brown, Senior Research Strategist dari Pepperstone Ltd., berpendapat bahwa arus berita terkait konflik tersebut memperburuk kondisi pasar yang sudah rentan. Menurutnya, pasar sebelumnya sudah terlalu sensitif akibat aksi pengurangan risiko dan pelepasan leverage yang masif terjadi pada hari Selasa. Brown menekankan bahwa sentimen yang sudah sangat pesimistis tidak memerlukan katalis besar untuk memicu pembalikan arah harga yang drastis.
Secara lebih luas, Bitcoin telah mengalami depresiasi sekitar 40% dari titik tertingginya di atas US$126.000 yang dicapai pada awal Oktober lalu. Penurunan substansial ini dipicu oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi serta belum adanya kejelasan mengenai rencana regulasi baru pemerintah Amerika Serikat terhadap aset kripto. Akibatnya, data CoinGecko menunjukkan nilai pasar total mata uang kripto telah menguap lebih dari US$1,8 triliun sejak puncak tersebut.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian tersebut, muncul beberapa sinyal positif yang memberikan harapan bagi kelas aset ini. ETF berbasis Bitcoin di Amerika Serikat berhasil mencatat arus masuk bersih lebih dari US$1,1 miliar hingga saat ini sepanjang bulan Maret, termasuk tambahan US$462 juta pada hari Rabu (4/3/2026). Aliran dana keluar atau masuk pada produk ETF ini sering dianggap sebagai barometer penting yang mencerminkan tingkat kepercayaan investor terhadap pasar kripto secara keseluruhan.
Caroline Mauron, Co-founder Orbit Markets, menegaskan bahwa sentimen di pasar kripto mulai bergeser kembali menuju area positif, bahkan dalam beberapa hari terakhir Bitcoin berhasil mengungguli emas, aset yang selama ini sering dijadikan pembanding. Sylvain Olive, analis kripto, juga mencatat ketahanan relatif altcoin, di mana indikator Total 3 (kapitalisasi pasar altcoin di luar Ether) naik sekitar 12% sejak Februari. Dalam situasi global yang rapuh ini, pemilihan posisi investasi yang cermat menjadi sangat krusial berdasarkan sinyal pasar yang mulai terlihat.