JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana seorang tokoh bangsa meletakkan pilar-pilar penting bagi kemajuan negara, yang jejaknya masih terasa hingga kini? Sebuah momen bersejarah terjadi di Menara Kompas pada Kamis (9/4/2026) lalu, ketika buku biografi Ginandjar Kartasasmita yang bertajuk “Pengabdian dari Masa ke Masa: Perjalanan, Pergulatan dan Pemikiran” resmi diperkenalkan ke publik. Acara ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku, tetapi juga panggung bagi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, untuk membedah warisan pemikiran Ginandjar yang dinilai fundamental bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
Sang Visioner di Balik Fondasi Ekonomi Bangsa
Dilansir dari Kompas.com (9/4), buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (PBK) ini bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan sebuah rekaman perjalanan panjang seorang Ginandjar Kartasasmita yang telah mengabdikan diri sejak tahun 1965. Mulai dari era Presiden Soekarno, berlanjut selama 32 tahun di masa Presiden Soeharto, hingga era reformasi di bawah Presiden BJ Habibie, Ginandjar telah menorehkan jejak karier yang luar biasa. Pengalamannya tidak berhenti di situ, ia juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua MPR, Ketua DPD, hingga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Timnas Putri Indonesia Bersiap Hadapi Singapura di Bandung, Ujian Krusial untuk Peringkat FIFA
Rachmat Pambudy, yang mengaku mengenal sosok Ginandjar sejak remaja melalui cerita orang tua dan lingkungan sekitarnya, memberikan pandangan mendalam tentang pengaruh Ginandjar. "Saya mengenal Pak Ginandjar sebagai sosok yang sangat tegas dan disiplin. Cara beliau bekerja membentuk kualitas sumber daya manusia di Bappenas yang saya rasakan hingga sekarang," ujar Rachmat di Menara Kompas, Jakarta. Ia menambahkan, "Saya mewarisi orang-orang terbaik di Bappenas, dan itu tidak lepas dari karya dan didikan Pak Ginandjar.”
Hilirisasi dan Wirausaha: Warisan Tak Ternilai
Dalam pandangan Menteri Pambudy, kontribusi terbesar Ginandjar Kartasasmita terletak pada peletakan fondasi pembangunan ekonomi modern Indonesia. Dua pilar utama yang disorot adalah konsep hilirisasi dan pengembangan wirausaha. “Pak Ginandjar meletakkan dasar-dasar pengembangan wirausaha. Beliau juga meletakkan dasar-dasar hilirisasi,” tegas Rachmat. Pemikiran ini, lanjutnya, tercermin dalam gagasan industrialisasi berbasis agroindustri yang pernah disampaikan Ginandjar dalam pidato akademiknya. "Konsep industrialisasi yang beliau dorong saat itu adalah agroindustri. Ini sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan kita," imbuhnya.
Pambudy menekankan bahwa gagasan-gagasan Ginandjar ini masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pembangunan Indonesia saat ini, termasuk dalam upaya mencapai visi Indonesia Emas 2045. "Kalau ide-ide Pak Ginandjar ini dilanjutkan, insya Allah kita selamat mencapai Indonesia Emas 2045," harapnya. Ia pun bertekad untuk menjadikan buku ini sebagai referensi wajib bagi para perencana pembangunan di Bappenas. "Saya akan mewajibkan para pimpinan di Bappenas untuk membaca buku ini sebagai bahan pembelajaran," tegasnya.
Profil Singkat Ginandjar Kartasasmita: Teknokrat Ulung
Ginandjar Kartasasmita, lahir pada 9 April 1941, bukan sekadar politikus senior, melainkan seorang teknokrat yang berperan penting dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Jepang, ini memulai kariernya di lingkungan militer dan pemerintahan sejak 1965. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, serta Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.