JAKARTA, BisnisMarket.com - Bayangkan, dana segar bertriliun-triliun rupiah tersedia melimpah di perbankan, biaya pinjaman pun sudah dipangkas serendah mungkin, namun seolah ada tembok tak kasat mata yang menghalangi uang itu berputar di tengah masyarakat. Ada apa sebenarnya? Apakah kebijak
Bank Indonesia memutar otak menjaga stabilitas sekaligus memacu pertumbuhan. Selama tujuh bulan beruntun, suku bunga acuan tetap dipatok di 4,75 persen. Langkah ini diambil demi menahan laju pelemahan rupiah yang telah merosot 2,81 persen sejak awal tahun. Namun, dengan ruang penurunan suku bunga yang sempit karena tekanan eksternal, BI memilih jalan lain: membanjiri pasar dengan likuiditas untuk menekan biaya dana perbankan.
Dilansir dari Bloomberg Technoz (24/4), strategi ini memang membuahkan hasil di sisi perbankan. Biaya dana turun menjadi 3,04 persen dan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) merosot ke angka 8,63 persen. Namun ada satu persoalan besar yang mengganjal: pertumbuhan kredit justru melambat menjadi 9,37 persen secara tahunan, lebih rendah dari harapan dan target yang ditetapkan sebesar 8–12 persen.
Banjir Dana yang Tak Kunjung Diserap
Melalui kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM, BI telah menyalurkan dana senilai Rp427,9 triliun hingga minggu pertama April 2026. Sebagian besarnya, Rp358 triliun, disalurkan melalui jalur penyaluran dana, sedangkan sisanya Rp69,9 triliun lewat jalur suku bunga. Dana ini terutama mengalir ke bank BUMN sebesar Rp224 triliun, diikuti bank swasta nasional Rp166,6 triliun, dan sisanya ke bank daerah serta kantor cabang bank asing.
Dana tersebut diarahkan ke sektor prioritas mulai dari pertanian, industri, jasa ekonomi kreatif, konstruksi, hingga UMKM dan pembiayaan berkelanjutan. Tujuannya jelas: menurunkan biaya pinjaman tanpa harus memberikan sinyal pelonggaran moneter yang bisa memperparah pelemahan nilai tukar.
Namun data berbicara lain. Penurunan suku bunga baru terasa signifikan di sektor konstruksi dan properti yang turun 3 bps menjadi 6,84 persen, serta jasa yang turun 1 bps menjadi 7,79 persen. Sektor pertanian dan industri malah cenderung stabil bahkan naik tipis 1 bps. Kondisi ini mempertegas apa yang disampaikan BI: “Penurunan SBDK mengindikasikan kondisi pendanaan bank yang memadai sehingga dapat mendorong suku bunga kredit semakin kompetitif, meskipun permintaan kredit terindikasi masih relatif terbatas yang membatasi pertumbuhan kredit.”
Kepercayaan Konsumen yang Belum Pulih
Masalah utamanya ternyata bukan pada ketersediaan dana atau tingkat bunga yang ditawarkan, melainkan pada kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat. Meskipun uang melimpah di sistem perbankan, minat untuk meminjam dana belum bangkit sepenuhnya. Perbankan pun masih berhati-hati dalam menyalurkan dana karena mempertimbangkan risiko usaha yang masih tinggi.