JAKARTA, BisnisMarket.com - Dunia akademik kembali digemparkan oleh kasus yang mencoreng dunia pendidikan. Sebuah dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter di salah satu klinik Universitas Riau (UNRI) terhadap puluhan mahasiswi telah menguak tabir kelam yang selama ini tersembunyi. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga rasa ngeri membayangkan bagaimana para mahasiswi ini harus menghadapi ancaman predator seksual di lingkungan yang seharusnya aman.

Terbongkarnya Aksi Bejat Lewat Pesan Nakal

Kasus ini mulai terkuak setelah beredarnya tangkapan layar percakapan/chat mesum antara terduga pelaku, yang merupakan seorang dokter di klinik UNRI, dengan para mahasiswi. Percakapan tersebut diduga menjadi bukti awal adanya modus pelecehan yang dilakukan secara sistematis. Dilansir dari Kompas.com (28/4), terungkapnya chat mesum ini menjadi titik awal investigasi yang kemudian mengarah pada pengakuan mengejutkan dari para korban.

Modus Operandi yang Mengerikan

Menurut informasi yang dihimpun, terduga pelaku diduga menggunakan posisinya sebagai dokter di klinik kampus untuk melancarkan aksinya. Modus pelecehan oknum ini pun terbilang licik, yakni dengan memanfaatkan momen pemeriksaan kesehatan atau konsultasi medis sebagai sarana untuk melakukan pelecehan. Para mahasiswi yang datang berobat atau berkonsultasi menjadi sasaran empuk dari tindakan tidak senonoh ini.

"Dia (terduga pelaku) sering bilang kalau mau periksa, harus buka baju. Kadang dia juga meraba-raba bagian tubuh yang tidak seharusnya," ungkap salah satu korban yang identitasnya dirahasiakan, menceritakan pengalamannya dengan nada bergetar.

Puluhan Mahasiswi Menjadi Korban

Yang lebih memprihatinkan, jumlah mahasiswi yang diduga menjadi korban pelecehan ini tidak sedikit. Diperkirakan ada sekitar 30 mahasiswi yang telah mengalami tindakan tidak menyenangkan dari oknum dokter tersebut. Sebagian besar korban adalah mahasiswi yang aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di UNRI, yang seringkali membutuhkan pelayanan kesehatan di klinik kampus.

"Kami merasa sangat tidak berdaya. Dia kan dokter, jadi kami percaya saja. Tapi ternyata dia menyalahgunakan kepercayaan itu," tambah korban lainnya.