BISNISMARKET.COM - Ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik global di tahun 2026 menuntut para investor untuk lebih cermat dalam memilih instrumen investasi yang menjanjikan. Berbagai sektor dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan signifikan meskipun kondisi pasar tengah bergejolak.
Dalam sebuah dialog eksklusif, Ronny Setiawan, Executive Director, Head of Trading Global Finance Markets Bank DBS Indonesia, membagikan pandangannya mengenai strategi investasi yang patut dipertimbangkan saat ini. Diskusi ini disiarkan langsung dalam program Power Lunch CNBC Indonesia pada Selasa, 17 Maret 2026.
Salah satu sorotan utama adalah pergerakan pasar obligasi yang menunjukkan tren kenaikan signifikan sejak akhir tahun 2026. Kenaikan suku bunga obligasi hingga 100% menciptakan peluang investasi yang menarik bagi para pelaku pasar modal.
"Di tengah gejolak geopolitik saat ini, suku bunga obligasi naik 100% sejak Desember 2026 sehingga menjadi peluang untuk menjadi pilihan investasi baik di obligasi Rupiah dan Dollar AS serta Yuan China," ujar Ronny Setiawan.
Hal ini menunjukkan bahwa obligasi, baik yang diterbitkan dalam mata uang domestik maupun valuta asing kuat seperti Dolar AS dan Yuan China, kini menjadi instrumen yang patut dilirik. Peluang ini muncul seiring dengan respons pasar terhadap kondisi global yang kian memanas.
Selain obligasi, emas dipandang sebagai aset pelindung nilai (safe haven) yang masih relevan untuk portofolio jangka panjang. Prospek emas diperkuat oleh prediksi pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang.
"Selain itu investasi emas masih bisa menjadi pilihan untuk jangka panjang ditopang potensi pelonggaran kebijakan moneter," kata Ronny Setiawan.
Lebih lanjut, Ronny Setiawan juga menyoroti potensi keuntungan jangka pendek yang bisa dimanfaatkan investor menjelang pertengahan tahun 2026. Momen pembagian dividen menjadi waktu yang strategis untuk melakukan aksi jual.
"Selain itu momen pembagian dividen di pertengahan tahun 2026 bisa menjadi peluang untuk menjual simpanan di masa ini," tambah Ronny Setiawan.