BISNISMARKET.COM - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga komoditas energi secara global, yang kemudian berdampak pada peningkatan inflasi di berbagai negara. Kondisi ini secara signifikan mengurangi prospek penurunan suku bunga acuan bank sentral pada tahun 2026.

Situasi global yang penuh ketidakpastian ini turut menjadi perhatian serius bagi sektor perbankan nasional, termasuk entitas bank digital yang tengah berupaya meningkatkan pertumbuhannya. Bank digital perlu mengelola strategi likuiditas secara hati-hati di tengah dinamika suku bunga.

Direktur Utama PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), Anton Hermawan, menyampaikan pandangannya mengenai sikap kehati-hatian yang akan diambil oleh bank sentral di dunia. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, maupun Bank Indonesia diprediksi akan sangat menahan diri untuk menurunkan suku bunga acuan.

Ancaman kenaikan inflasi yang masih besar menjadi alasan utama bagi bank sentral untuk bersikap konservatif dalam kebijakan moneternya. Bahkan, apabila tren kenaikan inflasi terus berlanjut, ada potensi suku bunga acuan akan mengalami kenaikan lebih lanjut.

Kondisi ketidakpastian global ini berpotensi menahan laju ekspansi dunia usaha secara umum, yang pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap penyaluran kredit perbankan serta perolehan dana pihak ketiga (DPK). Perbankan harus sigap dalam merespons perubahan lingkungan makroekonomi ini.

Saat ini, sektor perbankan, termasuk bank digital, secara intensif mewaspadai potensi dampak gejolak eksternal terhadap tingkat likuiditas sistem perbankan. Bank digital menghadapi tantangan ganda untuk tetap menarik likuiditas sambil menjaga daya saing suku bunga kredit.

"Bank sentral AS, The Fed hingga Bank Indonesia akan sangat menahan diri untuk menurunkan level suku bunga acuan mengingat ancaman kenaikan inflasi masih sangat besar. Bahkan jika inflasi terus naik bukan tidak mungkin suku bunga akan naik," ungkap Anton Hermawan.

Menghadapi dinamika tersebut, Krom Bank memilih strategi fokus pada segmen nasabah muda atau Generasi Z sebagai sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan. Segmen ini dipandang sebagai penopang likuiditas masa depan melalui produk yang relevan dengan tren anak muda.

"Saat ini Krom Bank masih berfokus untuk meningkatkan nasabah muda/Gen Z sebagai peluang baru bagi sumber pertumbuhan dan penopang likuiditas melalui penyediaan produk yang dapat memenuhi tren dan perilaku anak muda," kata Anton.