BISNISMARKET.COM - Emiten teknologi terkemuka, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), sedang menimbang langkah strategis untuk menyesuaikan tarif layanan transportasi daring Gojek. Keputusan ini muncul sebagai respons langsung terhadap potensi kenaikan biaya operasional yang dipicu oleh fluktuasi harga bahan bakar global.
Wacana penyesuaian tarif ini diungkapkan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) GOTO, Hans Patuwo, dalam sesi paparan kinerja perusahaan atau earning calls yang dilaksanakan pada pekan lalu. Langkah ini diambil untuk menjaga keberlanjutan operasional mitra pengemudi dan pedagang.
"Kami akan mempertimbangkan untuk membebankan sebagian dari peningkatan biaya yang ditanggung oleh mitra pengemudi dan pedagang kami kepada konsumen," ujar Hans Patuwo saat konferensi pers daring yang diadakan pada Senin (4/5/2026).
Hans Patuwo menjelaskan bahwa jika kenaikan harga diberlakukan, fokus utama penyesuaian tarif akan menyasar pada layanan premium. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pelanggan layanan premium cenderung memiliki daya tahan finansial yang lebih baik dan kurang sensitif terhadap perubahan harga.
Lebih lanjut, CEO GOTO menyoroti dampak inflasi yang lebih luas, termasuk potensi pukulan terhadap industri plastik akibat tingginya harga minyak mentah. Situasi ini secara keseluruhan berpotensi memperlemah daya beli masyarakat sebagai konsumen.
Kabar mengenai penyesuaian tarif ini disampaikan bersamaan dengan pengumuman kinerja finansial GOTO untuk periode Januari hingga Maret 2026 yang menunjukkan pemulihan signifikan. Pada kuartal tersebut, GOTO berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar.
Hasil laba bersih tersebut merupakan sebuah pembalikan keadaan yang impresif jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perusahaan masih mencatatkan kerugian sebesar Rp367 miliar. Ini menandakan efisiensi operasional yang membaik dalam tubuh GOTO.
Kinerja keuangan GOTO diperkuat dengan catatan EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp907 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini menempatkan perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pedoman kinerja setahun penuh, yakni antara Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Pendapatan bersih perusahaan juga menunjukkan pertumbuhan positif, melonjak 26% secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun pada kuartal pelaporan. Peningkatan substansial ini didorong oleh performa kuat dari berbagai produk unggulan perusahaan.