JAKARTA, BisnisMarket.com
- Pernahkah Anda membayangkan sebuah instrumen investasi baru berumur kurang
dari tiga tahun, tapi sukses mencetak sejarah baru dan jadi incaran para
pemodal dunia? Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI kini jadi sorotan
utama pasar keuangan tanah air, setelah imbal hasilnya menembus level tertinggi
sepanjang masa. Angka yang tercatat membuat banyak orang terkejut, sekaligus
bertanya-tanya: apa daya tarik di balik lonjakan tajam ini?
Dilansir dari Bloomberg Technoz (12/6), data terbaru
menunjukkan imbal hasil (yield) SRBI tenor 12 bulan kini berada di angka 7,57
persen. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak instrumen ini pertama kali
diluncurkan oleh Bank Indonesia pada September 2023. Kenaikan ini bukan sekadar
angka di atas kertas, melainkan sinyal kuat yang mengubah peta persaingan
instrumen keuangan di Indonesia.
Penawaran Lelang Turun, Tapi Ada Kejutan
Besar
Meski yield terus naik, kenyataan di lapangan
menunjukkan dinamika yang menarik. Pada lelang yang digelar tanggal 10 Juni
lalu, total penawaran yang masuk justru tercatat turun 28,01 persen menjadi
Rp35,59 triliun, dibandingkan lelang sebelumnya di tanggal 5 Juni yang
menyentuh Rp49,44 triliun. Akibatnya, nilai yang dimenangkan juga menyusut dari
Rp30 triliun menjadi Rp15 triliun.
Namun, jangan terkecoh dengan penurunan jumlah
penawaran tersebut. Di balik angka yang menyusut itu, tersembunyi tren yang
jauh lebih besar dan menggembirakan bagi perekonomian. Bank Indonesia secara
konsisten menaikkan suku bunga acuan, dimulai pada Rapat Dewan Gubernur bulan
Mei, lalu disusul kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada awal
pekan ini. Langkah ini ternyata menjadi magnet dahsyat bagi uang asing.
Investor Asing Semakin Gemar Berinvestasi
Data resmi Bank Indonesia mengungkapkan fakta yang
menakjubkan. Hingga Mei 2026, total nilai outstanding SRBI mencapai Rp979,88
triliun, naik 17,1 persen dibandingkan posisi akhir Februari yang masih di
angka Rp837,22 triliun. Peningkatan drastis ini sangat didorong oleh minat luar
biasa dari investor asing.
Pada Mei lalu, kepemilikan asing di SRBI tercatat
mencapai Rp216,48 triliun. Angka ini melonjak tajam sekitar 43,6 persen hanya
dalam waktu dua bulan, karena pada Februari 2026 angkanya masih berada di
Rp150,79 triliun. Artinya, dalam rentang waktu singkat, investor asing telah
menambah kepemilikan mereka sebesar Rp65,69 triliun!
Fenomena ini membuktikan satu hal penting: meski
penawaran lelang pekan ini turun, kualitas dan kepercayaan yang diberikan oleh
pemodal asing justru semakin kuat. Mereka melihat potensi keuntungan dan
keamanan yang sangat menarik di instrumen ini, seiring kebijakan moneter yang
tegas dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kendalikan
inflasi.