BISNISMARKET.COM - Ancaman bencana kabut asap yang melintasi batas negara di wilayah Asia Tenggara diprediksi akan mengalami peningkatan intensitas sepanjang tahun berjalan ini. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi kesehatan publik dan stabilitas lingkungan di kawasan tersebut.
Peningkatan risiko ini secara khusus menjadi perhatian serius bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang saat ini masuk dalam daftar wilayah yang harus waspada. Kewaspadaan tinggi diperlukan mengingat potensi dampak ekologis dan sosial yang ditimbulkan oleh asap lintas batas.
Fenomena iklim global yang dikenal sebagai Super El Nino telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor pemicu utama peningkatan risiko ini. Kondisi iklim ekstrem ini berpotensi besar memicu perluasan area kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di berbagai titik.
Super El Nino menyebabkan kondisi cuaca menjadi jauh lebih kering dibandingkan kondisi normal, sementara suhu udara cenderung mengalami panas ekstrem. Kondisi meteorologis ini secara signifikan mempercepat proses pengeringan vegetasi di daratan.
Pengeringan vegetasi yang masif ini kemudian menjadi bahan bakar utama yang rentan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan secara meluas. Kebakaran inilah yang kemudian menghasilkan polusi asap yang dapat terbawa melintasi batas-batas negara.
Temuan terbaru dari Singapore Institute of International Affairs (SIIA) semakin memperkuat kekhawatiran mengenai situasi regional ini. Lembaga tersebut telah melakukan penilaian mendalam mengenai tingkat kerentanan kawasan terhadap bencana asap.
SIIA mengindikasikan bahwa risiko kabut asap yang dihadapi kawasan Asia Tenggara saat ini telah mencapai level tertinggi atau high dalam penilaian yang mereka lakukan. Hal ini menuntut respons regional yang terkoordinasi dan cepat.
"Ancaman bencana kabut asap yang melintasi batas negara di wilayah Asia Tenggara diprediksi akan mengalami peningkatan intensitas sepanjang tahun berjalan ini," demikian disampaikan oleh pihak terkait mengenai proyeksi risiko tersebut.
Lebih lanjut, mengenai penyebab utama, diidentifikasi bahwa "Fenomena iklim global Super El Nino diidentifikasi sebagai salah satu faktor utama yang berpotensi besar memicu perluasan area kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)," menurut analisis terkini.