JAKARTA, BisnisMarket.com - Proyek besar yang diharapkan menjadi tonggak kemajuan transportasi modern Indonesia justru menyisakan beban berat bagi keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama komersial Whoosh, kini menjadi sorotan lantaran menyebabkan penurunan nilai investasi yang sangat signifikan selama dua tahun terakhir.

Nilai Investasi Tergerus Terus

Dilansir dari Bloomberg Technoz (26/6), berdasarkan laporan keuangan KAI per akhir tahun 2025, perusahaan milik negara itu mencatat kerugian investasi pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) — konsorsium pengendali proyek Whoosh — masing-masing sebesar Rp2,22 triliun pada 2024 dan Rp2,92 triliun pada 2025.

Kerugian kumulatif ini berdampak langsung pada posisi aset investasi. Awalnya, setelah menyetorkan dana tambahan sebesar Rp2,7 triliun pada 2024, total nilai investasi KAI sempat menyentuh angka Rp7,72 triliun. Namun, pada akhir tahun 2025, saldo investasi tersebut tersisa hanya Rp3,24 triliun. “Dengan kata lain, investasi KAI menguap sekitar Rp4,48 triliun selama dua tahun terakhir,” dikutip dari laporan tersebut.

Akar Masalah: Beban Utang dan Selisih Kurs

Penurunan nilai ini bukan tanpa alasan. PSBI sendiri tercatat membukukan kerugian bersih sebesar Rp4,98 triliun sepanjang tahun 2025, naik 18,89 persen dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,19 triliun.

Kerugian ini terutama berasal dari beban bunga utang dalam jumlah besar yang bersumber dari China Development Bank (CDB), serta tekanan akibat perubahan nilai tukar mata uang. KAI terikat dua fasilitas pinjaman: senilai AS$325,62 juta dalam bentuk dolar AS dengan bunga 3,2 persen per tahun, dan setara AS$217,08 juta dalam yuan Tiongkok dengan bunga 3,1 persen per tahun. Dana ini digunakan untuk menutupi kelebihan biaya pelaksanaan proyek atau cost overrun.

Posisi Keuangan yang Makin Tertekan

Tekanan keuangan juga terlihat dari struktur modal PSBI. Hingga akhir 2025, posisi ekuitas perusahaan ini hanya tersisa Rp5,1 triliun, atau turun drastis 64,2 persen jika dibandingkan dengan posisi tahun 2023 yang mencapai Rp14,26 triliun. Rasio utang terhadap aset bahkan menyentuh angka 79,8 persen, menandakan bahwa sebagian besar aset dibiayai dari utang dengan perlindungan modal yang makin menipis.