JAKARTA, BisnisMarket.com- Pernahkah Anda membayangkan ketika pasar sempat tertekan sehari sebelumnya, justru berbalik bangkit dan diburu banyak pelaku pasar? Inilah yang terjadi pada perdagangan surat utang Indonesia hari ini. Di tengah gejolak nilai tukar yang sempat melemah, gelombang minat beli hadir menjadi penopang utama yang mengubah arah pergerakan pasar.

Penguatan Terlihat di Berbagai Jangka Waktu

Dilansir dari Bloomberg Technoz (25/6), pasar Surat Utang Negara (SUN) mencatat penguatan signifikan pada sesi perdagangan Kamis ini. Hal ini terlihat dari penurunan imbal hasil atau yield pada sebagian besar tenor.

Sebagai acuan utama, yield SUN tenor 10 tahun turun 5,7 basis poin menjadi 7,16 persen. Penurunan juga terjadi pada tenor pendek hingga menengah: tenor 2 tahun turun 5,5 basis poin ke angka 7,14 persen, tenor 4 tahun turun 4 basis poin menjadi 7,28 persen, sementara tenor 6 dan 7 tahun masing-masing menyentuh level 7,2 persen.

Pergerakan arus dana ini juga membawa dampak positif bagi nilai tukar. “Pergerakan arus modal di pasar surat utang siang ini membawa volatilitas rupiah kembali mereda di kisaran Rp17.940 per Dolar AS, setelah sempat dibuka melemah pada sesi perdagangan pagi,” tulis laporan tersebut.

Obligasi Valas Juga Menarik Minat

Kekuatan ini tidak hanya terlihat pada surat utang berdenominasi rupiah. Obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam mata uang Dolar AS atau biasa disebut INDON juga mengalami penurunan imbal hasil.

Yield INDON tenor 10 tahun turun 4,7 basis poin menjadi 5,37 persen, diikuti tenor 2 tahun ke level 4,2 persen dan tenor 7 tahun menjadi 5,05 persen. Lionel Priyadi, Pakar Pendapatan Tetap dan Makro dari Mega Capital Sekuritas, menilai hal ini didorong oleh membaiknya kondisi pasar energi dunia.

Aksi beli INDON tertopang oleh sentimen positif atas pasokan minyak mentah dunia yang kembali mengalir dari Iran dan negara-negara teluk, dan membawa harga Brent kembali turun ke US$72,57 per barel.