JAKARTA, BisnisMarket.com – Meskipun vaksin telah tersedia selama puluhan tahun, penyakit Campak (Rubeola) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Penyakit yang disebabkan oleh virus dari keluarga Paramyxovirus ini dikenal sangat menular, jauh lebih menular daripada influenza atau COVID-19.
Data kesehatan menunjukkan adanya tren peningkatan kasus di beberapa wilayah akibat penurunan cakupan imunisasi rutin. Memahami gejala dan pencegahan campak adalah kunci utama untuk melindungi keluarga.
Campak menyebar melalui udara melalui tetesan (droplet) saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini sangat tangguh; ia dapat bertahan hidup di udara atau di permukaan benda selama hingga 2 jam setelah orang yang terinfeksi meninggalkan ruangan.
Seseorang yang tidak memiliki kekebalan tubuh memiliki peluang 90% untuk tertular jika berada dalam satu ruangan dengan penderita campak.
Mengenali Gejala Khas Campak
Gejala biasanya muncul 10 hingga 14 hari setelah terpapar virus. Berikut adalah tahapan gejalanya:
Fase Awal (Prodromal): Demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah (konjungtivitis).
Bercak Koplik: Munculnya bintik-bintik putih kecil di dalam mulut (pipi bagian dalam) sekitar 2-3 hari setelah gejala awal.
Ruam Merah: Ruam khas yang dimulai dari garis rambut atau belakang telinga, lalu menyebar ke wajah, leher, hingga seluruh tubuh.