JAKARTA, BisnisMarket.com - Suasana kompetisi yang seharusnya penuh semangat, kebanggaan, dan pelajaran berharga, tiba-tiba berubah menjadi kisah pahit yang menyisakan kekecewaan mendalam. Sebuah polemik panas meletus di Kalimantan Barat (Kalbar), saat peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat provinsi melontarkan protes keras atas dugaan ketidakadilan dalam proses penilaian. Video kejadian pun menyebar cepat di media sosial, memancing kemarahan publik hingga sampai ke telinga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Apakah benar ada ketimpangan perlakuan? Dan seberapa besar dampaknya bagi mental para peserta yang masih berusia anak-anak?
Polemik Meledak di Media Sosial
Semua bermula setelah babak final lomba berakhir. Sejumlah peserta, termasuk dari SMAN 1 Pontianak, merasa diperlakukan tidak adil. Dalam rekaman video yang beredar luas, terungkap keluhan bahwa jawaban yang disampaikan tim mereka memiliki isi, makna, dan substansi yang hampir sama persis dengan jawaban tim lain. Namun, angka yang tertera di papan skor menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Ketimpangan ini memicu tanda tanya besar: apakah penilaian dewan juri sudah objektif? Atau ada standar ganda yang diterapkan?
LPDP Jakarta Alokasikan Rp100 Miliar untuk Beasiswa S2/S3 Lulusan KJMU ke Universitas Top Dunia
Polemik ini tak hanya menjadi pembicaraan warga Kalbar, tapi juga merambah ke ranah nasional. Kecemasan mulai muncul, bukan hanya soal siapa yang berhak menang, tapi soal bagaimana proses ini memengaruhi jiwa para pelajar yang telah berjuang keras belajar dan berlatih demi nama baik sekolah dan daerahnya.
KPAI Angkat Bicara, Sorot Risiko Psikologis
Merespons kegaduhan ini, Ketua KPAI Aris Adi Leksono langsung mengeluarkan pernyataan tegas. Dilansir dari Bloomberg Technoz (13/5), ia menegaskan bahwa dugaan kesalahan penilaian atau perlakuan yang tidak adil bukan sekadar masalah teknis lomba, melainkan masalah perlindungan anak.
“Ketika terdapat dugaan kesalahan penilaian, atau perlakuan yang dianggap tidak adil, maka hal tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis, rasa malu, kekecewaan mendalam, bahkan hilangnya kepercayaan anak,” dikutip dari keterangan tertulis KPAI.
Menurut Aris, lomba pendidikan sejatinya adalah sarana belajar, mengasah kemampuan, dan membangun karakter. Jika di dalamnya justru ada ketidakadilan, maka lomba itu berubah menjadi tempat yang menyakitkan. Tekanan mental, rasa malu di depan umum, hingga hilangnya kepercayaan diri adalah risiko nyata yang bisa dibawa anak hingga jangka panjang. KPAI menekankan, penyelenggara dan dewan juri punya tanggung jawab moral serta pedagogis untuk menjamin proses yang objektif, akuntabel, dan adil bagi semua pihak tanpa diskriminasi.
Minta Evaluasi Total dan Jaga Etika Bersosial Media