TEL AVIV, BisnisMarket.com – Di atas atap gedung kementerian pertahanan Kirya, dengan latar langit Tel Aviv yang sesekali diterangi sirine pertahanan udara, Benjamin Netanyahu berdiri tegak.
Di usianya yang ke-76, pria yang dijuluki "Bibi" ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Sebaliknya, ia baru saja meluncurkan apa yang ia sebut sebagai misi hidupnya: penghancuran total ancaman nuklir Iran.
Per Maret 2026, Netanyahu bukan sekadar Perdana Menteri Israel; ia adalah sosok pusat dalam pusaran konflik global yang bisa mengubah peta Timur Tengah selamanya.
Penyihir yang Kembali dari Tepi Jurang
Hanya setahun yang lalu, karier politik Netanyahu dianggap hampir tamat. Ia dikepung oleh demonstrasi massa di jalanan Yerusalem dan persidangan korupsi yang melelahkan.
Namun, seperti yang telah ia lakukan berkali-kali dalam tiga dekade terakhir, Netanyahu berhasil melakukan manuver "penyelamatan diri" yang dramatis.
Dengan terpilihnya kembali Donald Trump di Amerika Serikat pada 2025, Netanyahu menemukan sekutu yang memiliki visi serupa. Aliansi ini memuncak pada awal Maret 2026 melalui Operasi Roaring Lion, sebuah serangan udara besar-besaran yang menargetkan infrastruktur militer dan kepemimpinan di Iran.
Antara "Pahlawan Keamanan" dan "Terdakwa"
Narasi Netanyahu selalu tunggal: Keamanan Israel adalah segalanya. Baginya, serangan ke Teheran bukan sekadar pilihan militer, melainkan kewajiban eksistensial.