BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan hari Kamis, 30 April 2026, nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Penutupan perdagangan hari itu mencatatkan posisi Rupiah di level Rp17.305 per Dolar AS, menandai titik terendah baru dalam sejarah pencatatan mata uang Garuda.
Pelemahan ini merupakan respons pasar terhadap keputusan yang diambil oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan The Fed ini secara luas memengaruhi persepsi risiko di pasar keuangan global.
Dilansir dari Refinitiv, Rupiah mengakhiri sesi perdagangan dengan depresiasi sebesar 0,17% dari penutupan sebelumnya. Posisi penutupan di Rp17.305/US$ ini secara resmi mengukuhkan rekor baru sebagai level penutupan terlemah Rupiah sepanjang masa.
Sejak awal sesi perdagangan, tekanan terhadap mata uang domestik sudah terlihat jelas. Mata uang Garuda membuka hari di posisi yang lebih lemah, yakni di level Rp17.340 per Dolar AS.
Pelemahan ini berlanjut sepanjang hari, bahkan sempat mencapai level intraday terendah pada Rp17.385 per Dolar AS. Pergerakan ini membawa Rupiah semakin mendekati ambang batas psikologis penting, yaitu Rp17.400 per Dolar AS.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB menunjukkan sedikit penurunan tipis sebesar 0,06%, berada di level 98,906. Namun, pelemahan tipis ini tidak cukup untuk meredam sentimen penguatan Dolar yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, Rabu (29/4/2026), di mana DXY sempat menguat 0,33%.
Pelemahan Rupiah terjadi dalam konteks sentimen global di mana Dolar AS masih mempertahankan kekuatannya di pasar internasional. Kekuatan ini dipicu oleh sinyal yang lebih hawkish dari The Fed dan lonjakan harga minyak mentah global.
Harga minyak Brent bahkan mencapai level tertinggi sejak Maret 2022, yang dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan menyusul laporan mengenai pertimbangan aksi militer AS terhadap Iran terkait kebuntuan negosiasi gencatan senjata.
Sentimen geopolitik dan kebijakan moneter ini bertemu dalam keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga, di mana Ketua The Fed Jerome Powell menutup masa kepemimpinannya dengan mempertahankan suku bunga karena kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat.