JAKARTA, BisnisMarket.com – Di saat hampir seluruh pelaku industri penerbangan dunia menahan langkah, memangkas rute, dan berhemat ketat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah, satu nama justru tampil beda dan berani melawan arus. AirAsia, grup maskapai bertarif rendah raksasa Asia Tenggara, justru bersiap meluncurkan maskapai baru, memesan ratusan pesawat, dan tetap teguh menolak strategi lindung nilai bahan bakar, meski sahamnya menjadi yang terburuk kinerjanya di indeks dunia. Apakah ini langkah nekat atau visi jauh ke depan yang akan mengubah peta persaingan penerbangan?

Dilansir dari Business Times (9/5), salah satu pendiri AirAsia X, Tony Fernandes, mengonfirmasi rencana besar ini dalam wawancara video dari Montreal, Kanada. Ia menyatakan, maskapai baru tersebut akan diumumkan secara resmi dalam satu atau dua bulan ke depan, dan pihaknya sudah mulai memindahkan sejumlah armada pesawat untuk persiapan operasional, meski belum merinci rute atau lokasi basis barunya.

Berani Bertaruh in Tengah Krisis

Langkah ekspansi ini dilakukan tepat setelah AirAsia menyelesaikan pemesanan raksasa: 150 unit pesawat Airbus A220 buatan Kanada, yang disebut Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebagai pembelian pesawat komersial buatan Kanada terbesar sepanjang sejarah. Pesawat berukuran lebih kecil namun lebih efisien dan lincah ini menjadi kunci strategi Fernandes untuk memperluas jangkauan ke seluruh pelosok Asia, menjangkau kota-kota yang sebelumnya sulit diakses pesawat berbadan lebar.

“Mengapa membuang krisis? Di dalam krisis selalu ada peluang. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di Timur Tengah, tetapi kita harus berpandangan bahwa situasi ini tidak akan berlangsung selama dua tahun,” tegas Fernandes, yang kini berusia 62 tahun, dengan penuh keyakinan.

Pandangan ini sejalan dengan analisis lembaga pemeringkat Moody’s (Maret 2026), yang mencatat meski harga minyak melonjak hingga 45 persen di atas rata-rata tahun lalu dan menekan margin keuntungan, permintaan perjalanan udara tetap kuat, membuka ruang bagi pemain yang berani berinvestasi saat pesaing ragu-ragu.

Tolak Lindung Nilai: Strategi Jenius atau Risiko Besar?

Poin paling kontroversial dan menjadi sorotan tajam pasar keuangan adalah keputusan tegas AirAsia untuk tidak melakukan lindung nilai (hedging) biaya bahan bakar. Kebijakan ini menjadi penyebab utama nilai saham AirAsia merosot sekitar 35 persen sejak meletusnya konflik Iran, menjadikannya emiten maskapai dengan kinerja terburuk dalam Bloomberg World Airlines Index periode tersebut.

Sebagai perbandingan, maskapai seperti Ryanair sudah mengunci 86 persen kebutuhan bahan bakarnya tahun ini di harga rendah sekitar 1.216.000 rupiah per barel, sehingga terlindung dari gejolak harga pasar saat ini. Namun Fernandes tidak bergeming, dan tetap mempertahankan pendiriannya.