BISNISMARKET.COM - Suasana di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pada Senin siang (23/3/2026) terpantau masih menunjukkan kepadatan signifikan oleh sejumlah warga yang bersiap untuk melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman masing-masing. Fenomena ini menunjukkan bahwa arus balik atau keberangkatan susulan pasca-Lebaran masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat.
Keputusan untuk menunda perjalanan mudik beberapa hari setelah puncak perayaan Idulfitri ternyata didasari oleh perhitungan matang oleh para pemudik terkait kenyamanan perjalanan. Mereka menganggap momen tersebut menawarkan keuntungan signifikan dibandingkan harus berangkat tepat pada hari-H atau mendekati Lebaran.
Salah satu pemudik yang ditemui di lokasi, Lintang (28), mengungkapkan alasan utama di balik pemilihan waktu keberangkatannya yang sedikit terlambat dari tren umum. Strategi ini bertujuan untuk meminimalisir tekanan fisik dan mental yang sering menyertai perjalanan di masa puncak liburan.
Lintang secara spesifik menyoroti aspek persaingan ketat dalam mendapatkan sarana transportasi publik saat lonjakan permintaan terjadi. Ia memilih untuk menghindari situasi tersebut demi perjalanan yang lebih tenang.
"Biar nggak terlalu ramai banget sih, kalau pas mepet Lebaran itu tuh ramai banget, pusing aku ngelihat banyak orangnya, nggak terlalu harus war tiket juga kalau baliknya abis Lebaran," ujar Lintang saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2026).
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa faktor kenyamanan visual, yaitu minimnya kerumunan massa, menjadi prioritas utama bagi pemudik yang cerdas dalam perencanaan. Hal ini juga berkaitan langsung dengan kemudahan dalam mengamankan tiket.
Bagi Lintang, menunda keberangkatan berarti menghilangkan kebutuhan untuk "war tiket," sebuah istilah populer merujuk pada perjuangan memperebutkan tiket transportasi secara daring maupun luring. Situasi ini seringkali membuat stres calon penumpang.
Dilansir dari pantauan di lokasi, Stasiun Pasar Senen tetap menjadi titik keberangkatan favorit, meskipun suasana sudah jauh lebih kondusif dibandingkan periode puncak arus mudik yang sebenarnya. Para pemudik yang datang di waktu ini umumnya mencari ketenangan.
Keputusan Lintang merepresentasikan tren minoritas yang kini semakin populer, yakni mengutamakan kualitas perjalanan daripada mengikuti jadwal mayoritas. Mereka memprioritaskan ketenangan di stasiun dan selama di perjalanan.