BISNISMARKET.COM - Nama Kang Maun menjadi salah satu sosok kunci dalam operasi pencarian pendaki Syafiq Ali yang hilang di Gunung Slamet melalui jalur Basecamp Dipajaya. Ia merupakan ranger senior yang telah lama mengabdikan diri menjaga keselamatan pendaki serta memahami karakter medan Gunung Slamet secara mendalam.

Kang Maun mulai bergabung dengan Ranger Dipajaya sejak tahun 2013, bertepatan dengan aktifnya basecamp tersebut. Sejak awal, ia terlibat langsung dalam berbagai kegiatan lapangan, mulai dari pendampingan pendaki, evakuasi korban cedera ringan, hingga operasi pencarian dan penyelamatan (SAR). 

Dalam perjalanannya, Kang Maun dikenal sebagai sosok yang tenang, disiplin, dan sangat menghormati SOP pendakian.


Awal Mula Hilangnya Syafiq Ali
Syafiq Ali mendaki Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan, pada 27 Desember 2025, dengan sistem tektok atau pulang-pergi tanpa bermalam. Keduanya melakukan registrasi lengkap di Basecamp Dipajaya pada malam hari, termasuk pemeriksaan kesehatan dan briefing pendakian. 

Saat itu, jalur Dipajaya dipadati ratusan pendaki lain yang naik bersamaan. Namun, hingga dua hari setelah pendakian, Syafiq tak kunjung kembali dan tidak melakukan pelaporan turun. 

Informasi awal hilangnya Syafiq justru diketahui dari pihak keluarga, yang menyadari bahwa formulir pendakian belum diambil dan kendaraan masih berada di basecamp.


Pencarian oleh Kang Maun dan Relawan 
Tanpa menunggu lama, Kang Maun bersama dua rekannya segera melakukan pencarian awal secara mandiri. Mereka menyisir jalur menuju pos-pos atas, termasuk jalur yang mengarah ke Gunung Malang, area yang sering menjadi lokasi pendaki tersesat akibat simpang jalur di dekat puncak.

Pencarian dilakukan sejak pagi hingga sore hari, menyusuri pos 9, jalur air, hingga basecamp Gunung Malang. Namun hasilnya masih nihil. Kondisi medan yang berat, logistik terbatas, serta minimnya petunjuk membuat pencarian awal belum membuahkan hasil.

Operasi SAR resmi kemudian digelar dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Basarnas, relawan, warga lokal, dan ranger Dipajaya. Sosok ranger senior itu menjadi salah satu personel yang paling aktif di lapangan, menghabiskan sebagian besar waktunya di gunung selama 17 hari operasi SAR.