PHILADELPHIA, BisnisMarket.com - Laga babak gugur Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Prancis melawan Paraguay di Philadelphia Stadium berakhir dengan kemenangan tipis Les Bleus 1-0. Namun, alih-alih membicarakan taktik sepak bola yang indah, perhatian dunia justru tertuju pada permainan super agresif dan menjurus kasar yang diperagakan oleh timnas Paraguay.
Bahkan, sejumlah pakar sepak bola dan mantan pemain secara blak-blakan melabeli pendekatan permainan Paraguay dalam pertandingan tersebut sebagai salah satu "aib" terbesar di panggung Piala Dunia 2026.
Taktik Kasar dan "Kekebalan" Kartu yang Janggal
Prancis memang berhasil mengunci tiket lolos berkat eksekusi penalti matang dari sang kapten, Kylian Mbappé, pada babak kedua. Namun, sepanjang 90 menit laga berjalan, para penggawa Prancis harus berjuang ekstra keras bukan hanya demi mencetak gol, melainkan untuk menghindari cedera parah akibat tekel-tekel brutal para pemain Paraguay.
Sorotan tajam pun mengarah kepada wasit yang memimpin jalannya laga, Ilgiz Tantashev. Kubu Prancis, dipimpin oleh pernyataan vokal gelandang Rayan Cherki, merasa sangat heran dengan keputusan sang pengadil lapangan.
Paraguay tercatat melakukan rentetan pelanggaran fisik yang sangat masif, tetapi entah bagaimana mereka seolah memiliki kekebalan terhadap hukuman kartu.
"Saya tidak tahu bahwa sebuah tim bisa melakukan hingga 30 pelanggaran tanpa mendapatkan satu pun kartu kuning," ketus Rayan Cherki selepas pertandingan.
Kritik Keras dari Berbagai Pihak
Kekecewaan luar biasa juga disuarakan oleh mantan penjaga gawang timnas Inggris, Joe Hart, yang bertugas sebagai pandit. Tanpa ragu, Hart langsung menyemprot kepemimpinan wasit dan menyebut situasi di lapangan "sangat memalukan" untuk turnamen sekelas Piala Dunia.