BISNISMARKET.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, belakangan ini mengeluarkan sinyal kuat bahwa konfrontasi militer yang melibatkan AS dan Iran telah mendekati titik akhir. Pernyataan ini tentu saja menarik perhatian global mengingat ketegangan yang sempat memuncak antara kedua negara.
Namun, pandangan skeptis muncul dari kalangan analis politik internasional mengenai ketulusan di balik klaim penghentian konflik tersebut. Salah satu sorotan utama diarahkan pada motif politik domestik yang mungkin melatarbelakangi pernyataan Trump.
Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah, menyampaikan keraguannya terhadap kesediaan Iran untuk menerima klaim perdamaian dari pihak Trump. Menurut pandangan Rezasyah, Iran kemungkinan besar tidak akan mudah percaya pada pernyataan yang dikeluarkan oleh pemimpin Gedung Putih saat ini.
Rezasyah menduga bahwa langkah Trump ini memiliki tujuan yang lebih spesifik terkait citra dirinya di panggung politik Amerika Serikat. Inti dari manuver ini adalah upaya untuk memposisikan diri sebagai figur yang berhasil mengakhiri sebuah konflik besar.
Hal ini dilakukan demi mendongkrak popularitas dan kredibilitasnya di mata pemilih Amerika menjelang agenda politik penting. Rezasyah secara eksplisit menjelaskan kaitan antara pernyataan tersebut dengan pemilihan sela yang akan datang.
"Jika publik internasional menerima ide tersebut, maka kredibilitas Donald Trump menaik, sekaligus memupus kredibilitas di dalam negerinya yang sedang dipermasalahkan," ujar Rezasyah kepada wartawan pada hari Kamis, 12 Maret 2026.
Lebih lanjut, Rezasyah memaparkan bahwa keberhasilan klaim ini akan memberikan keuntungan signifikan bagi Partai Republik. Tujuannya adalah untuk memastikan partai tersebut tetap memegang kendali dan tidak mengalami kerugian elektoral yang berarti.
"Dengan demikian Partai Republik tetap di atas angin dan tidak tergerus pada pemilihan sela bulan November tahun ini," tambah Rezasyah, menekankan bahwa ini adalah langkah strategis menjelang pemilihan.
Analisis ini menunjukkan bahwa pernyataan Trump mengenai akhir perang dengan Iran mungkin lebih merupakan strategi pencitraan politik daripada sebuah deklarasi perdamaian yang substantif, dilansir dari sumber berita terkait.