BISNISMARKET.COM - Nama Bakat Setiawan, atau yang akrab disapa Lahar Bara, kembali mencuat dalam dunia relawan gunung setelah terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi pendaki Syafiq Ali di Gunung Slamet, Jawa Tengah. 

Lahar Bara merupakan sosok relawan asal Desa Kembangkuning, Cepogo, Boyolali ini dikenal luas karena pengalamannya menghadapi medan ekstrem, khususnya dalam operasi penyelamatan dan evakuasi pendaki.

Keterlibatan Lahar Bara dalam kasus Syafiq Ali mempertegas konsistensinya sebagai relawan yang selalu hadir dalam misi kemanusiaan berisiko tinggi. Gunung Slamet, dengan karakter jalur panjang, vegetasi rapat, serta cuaca yang cepat berubah, menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR dan relawan yang terjun langsung ke lapangan.


Rekam Jejak Panjang di Medan Berbahaya
Sebelum terlibat dalam operasi di Gunung Slamet, ia lebih dulu dikenal publik lewat perannya dalam evakuasi jenazah pendaki Erri Yunanto dari dasar kawah Gunung Merapi pada 2015. Operasi tersebut menjadi salah satu evakuasi paling berbahaya yang pernah dilakukan di gunung berapi aktif di Indonesia.

Dalam misi tersebut, ia harus turun langsung ke dasar kawah dengan ancaman gas beracun, suhu tinggi, dan medan curam. Pengalaman itu membentuk mental dan insting lapangannya, yang kemudian menjadi bekal penting dalam berbagai operasi penyelamatan berikutnya, termasuk di Gunung Slamet.

Julukan Lahar Bara sendiri lahir dari kedekatannya dengan Merapi dan aktivitas relawan yang dijalaninya selama bertahun-tahun. Ia dikenal tidak hanya berani, tetapi juga disiplin dalam perhitungan risiko.

Kasus Syafiq Ali, pendaki muda yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Slamet dan akhirnya ditemukan meninggal dunia, menyita perhatian luas. Proses pencarian berlangsung berhari-hari, melibatkan tim SAR gabungan dan relawan dari berbagai daerah.

Dalam operasi tersebut, relawan berambut gondrong itu menjadi salah satu relawan yang terlibat langsung, membantu tim di lapangan dalam proses pencarian hingga evakuasi jenazah. Medan terjal, cuaca ekstrem, serta jarak tempuh yang panjang membuat evakuasi berlangsung penuh kehati-hatian.

Proses evakuasi jenazah membutuhkan koordinasi matang, penguasaan teknik lapangan, serta stamina fisik yang prima. Keselamatan tim menjadi prioritas utama, mengingat jalur Gunung Slamet dikenal memiliki banyak titik rawan longsor dan kabut tebal.