PANDEGLANG, BisnisMarket.com - Perbedaan penetapan hari raya Idul Fitri di Indonesia bukanlah hal baru. Fenomena ini sering kali memicu diskusi di tengah masyarakat.
Meski tujuannya sama, yaitu menentukan awal bulan Syawal, perbedaan muncul karena adanya dua metode ilmiah yang berbeda dalam memandang posisi bulan.
1. Perbedaan Metode: Hisab vs Rukyat
Akar utama dari perbedaan ini terletak pada "kacamata" yang digunakan untuk melihat hilal (bulan sabit muda).
Muhammadiyah (Hisab Hakiki Wujudul Hilal):
Muhammadiyah menggunakan metode kalkulasi astronomis (matematika). Prinsipnya sederhana: selama posisi hilal sudah berada di atas ufuk (garis cakrawala) saat matahari terbenam, berapapun derajatnya (meski hanya 0,1°), maka esok hari dianggap sudah masuk bulan baru.
NU (Rukyatul Hilal):
NU berpegang pada observasi lapangan secara langsung. Meskipun perhitungan astronomis sudah dilakukan, hasilnya harus dibuktikan secara visual melalui teropong. Jika hilal tidak terlihat karena cuaca atau posisinya terlalu rendah, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
2. Standar Ketinggian Hilal (Kriteria MABIMS)