JAKARTA, BisnisMarket.com – Pernahkah Anda menonton video viral, membaca berita heboh, atau mengisi data pembukaan rekening digital, lalu ragu: apakah ini asli atau buatan komputer? Pertanyaan itu kini bukan sekadar curiga biasa, melainkan kenyataan mengerikan yang mengancam keamanan data, uang, dan kepercayaan kita. Di balik layar, kecerdasan buatan atau AI kini berubah menjadi senjata mematikan bagi penjahat siber, membuat serangan makin masif, cepat, dan hampir mustahil dikenali.
AI: Senjata Bermata Dua di Dunia Digital
Dilansir dari Bloomberg Technoz (11/5), Charles Lim, Wakil Kepala Program IT Swiss German University, menegaskan: “Serangan yang menggunakan AI tidak mungkin turun, justru akan naik.” Teknologi yang seharusnya memudahkan hidup dan menjaga keamanan, kini berbalik arah. Di satu sisi AI membantu mendeteksi ancaman lebih cepat, namun di sisi lain, peretas menggunakannya untuk menemukan celah keamanan yang sebelumnya sulit ditemukan manusia, bahkan menciptakan konten dan identitas yang sempurna palsunya.
Serangan tertinggi masih didominasi ransomware yang mengunci seluruh sistem, namun ancaman berbasis AI kini tumbuh pesat. Polanya berubah drastis: tidak lagi meretas sistem secara rumit, tapi mencuri data masuk, nama pengguna, dan kata sandi dalam jumlah ribuan sekaligus. Laporan Kaspersky mencatat, sepanjang 2025 saja, lebih dari 1 juta akun perbankan online berhasil dibobol dengan cara yang makin sederhana namun efektif.
Ancaman Nyata: Deepfake dan Akun Bank Palsu
Yang paling mengkhawatirkan adalah pemanfaatan AI untuk menciptakan hal yang tak bisa dibedakan dari aslinya. Video deepfake, berita palsu, hingga identitas sintetis kini mudah dibuat dan disebar luas. “Banyak video yang diviralkan ternyata dibuat dari AI juga. Ini yang harus hati-hati,” ujar Charles.
Dampak paling besar terasa di sektor keuangan digital. Banyak bank yang hanya memerlukan foto dan kartu identitas untuk membuka akun baru, celah ini diserbu habis. “Beberapa pihak bank sudah menyampaikan sekitar 50 persen transaksi pembukaan rekening itu palsu,” ungkapnya. Identitas buatan komputer, foto hasil rekayasa, semua lolos verifikasi, hingga uang masyarakat terancam hilang dalam sekejap.
Indonesia Belum Siap Hadapi Ancaman Ini
Kenyataan pahitnya: kesiapan kita masih sangat rendah. Berdasarkan Whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” yang dirilis bersama Indosat Ooredoo Hutchison, terungkap fakta mengejutkan: 89 persen perusahaan di Indonesia belum memiliki kematangan keamanan siber yang memadai. Artinya, hampir 9 dari 10 bisnis kita masih rentan, belum paham pola serangan baru, dan belum punya pertahanan yang kuat melawan AI jahat.