BISNISMARKET.COM - Wacana suksesi kepemimpinan tertinggi di Iran memicu reaksi keras dari Amerika Serikat. Seorang senator senior dari Partai Republik, Lindsey Graham, secara terbuka menyatakan keprihatinannya mengenai figur yang dipilih untuk melanjutkan tongkat estafet kekuasaan.

Graham secara spesifik menyoroti penunjukan Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei yang telah wafat, sebagai calon pemimpin tertinggi Iran selanjutnya. Pandangan senator ini sangat skeptis terhadap arah politik yang diambil oleh Republik Islam tersebut.

Senator dari South Carolina ini menilai bahwa pilihan Iran untuk menempatkan Mojtaba sebagai penerus ayahnya bukanlah perkembangan positif yang dinanti-nantikan oleh komunitas internasional. Langkah ini dinilai memperkuat dinasti kekuasaan yang sudah ada.

"Saya meyakini hanya masalah waktu sebelum dia mengalami nasib yang sama seperti ayahnya," ujar Lindsey Graham dalam sebuah pernyataan yang disebarkannya melalui platform media sosial X. Pernyataan ini mengisyaratkan prediksi nasib buruk bagi Mojtaba.

Komentar tajam ini disampaikan oleh Graham setelah proses penunjukan calon pengganti pemimpin tertinggi Iran menjadi sorotan publik global. Keputusan tersebut dipandang sebagai upaya untuk menjaga kesinambungan ideologi kepemimpinan saat ini.

Informasi mengenai kecaman dari senator AS ini telah tersebar luas di berbagai media internasional. Lindsey Graham menyampaikan pandangannya tersebut seperti dilansir Al Jazeera pada hari Senin, 9 Maret 2026.

Senator Republik tersebut menekankan bahwa pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai penerus tidak mencerminkan perubahan mendasar yang diharapkan oleh pihak luar terhadap Iran. Hal ini menegaskan ketidakpuasan AS terhadap dinamika politik internal Iran yang makin menguat.

Pernyataan keras Lindsey Graham itu menegaskan garis politik AS yang cenderung menentang konsolidasi kekuasaan dalam satu garis keturunan keluarga di pucuk kepemimpinan Iran. Senator ini konsisten menyuarakan kritik terhadap rezim yang berkuasa.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: News.detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.