BISNISMARKET.COM - Nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Pelemahan ini terjadi menjelang penutupan aktivitas pasar mingguan, menambah tekanan pada mata uang nasional.
Mata uang Garuda dibuka terdepresiasi sebesar 0,22% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Posisi pelemahan ini membawa nilai tukar rupiah ke level Rp17.930 per dolar AS.
Kondisi ini merupakan kelanjutan dari tren pelemahan yang sudah terjadi pada hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, rupiah tercatat sudah melemah sebesar 0,08%.
Investor global kini tengah mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan. Pergerakan harga minyak dunia dan perkembangan kebijakan dagang Amerika Serikat menjadi sorotan utama.
Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global dapat memicu aksi risk-off di pasar. Hal ini seringkali berujung pada penguatan mata uang safe-haven seperti dolar AS.
Pergerakan harga minyak yang fluktuatif dapat memengaruhi neraca perdagangan negara-negara importir minyak seperti Indonesia. Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit perdagangan.
Kebijakan dagang Amerika Serikat, termasuk tarif dan pembatasan perdagangan, juga dapat mengganggu rantai pasok global. Hal ini berdampak pada aktivitas ekspor dan impor berbagai negara.
"Mata uang Garuda dibuka terdepresiasi sebesar 0,22% ke level Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS)," demikian dilaporkan dalam tren bisnis market.
"Posisi ini merupakan kelanjutan dari pelemahan 0,08% yang tercatat pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, Kamis (23/7/2026)," demikian informasi yang disampaikan.