BISNISMARKET.COM - Nilai tukar Rupiah yang kembali tertekan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat mengindikasikan adanya persoalan struktural yang lebih dalam dalam perekonomian nasional. Tekanan ini bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan sinyal nyata kerentanan fondasi industri dalam negeri.

Berdasarkan data Refinitiv pada Senin pagi (30/3/2026), Rupiah dibuka melemah tipis 0,06% ke posisi Rp16.970 per dolar AS. Pergerakan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan sebelumnya di hari Jumat (27/3/2026) yang ditutup melemah 0,38% di angka Rp16.960 per dolar AS.

Memasuki siang hari, kondisi semakin menipiskan harapan, di mana data Refinitiv pukul 12.18 WIB menunjukkan Rupiah semakin tertekan hingga menyentuh level Rp16.990 per dolar AS. Situasi ini menimbulkan kegelisahan di kalangan pelaku usaha nasional.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyoroti bahwa pelemahan Rupiah dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan isu fundamental yang belum terselesaikan di sektor industri. Meskipun faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga global dan geopolitik berperan, masalah internal tetap menjadi akar kerentanan.

"Di sektor mebel dan kerajinan yang menyerap lebih dari dua juta tenaga kerja, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku, keterampilan tenaga kerja, serta posisi strategis dalam rantai pasok global. Meski begitu, industri hilir kerap menghadapi kekurangan bahan baku akibat masih terjadinya kebocoran pasokan ke luar negeri," kata Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (30/3/2026).

Sobur menegaskan bahwa struktur industri nasional masih rapuh, terutama dari sektor hulu hingga hilir, sehingga sangat rentan terhadap gejolak eksternal yang datang berulang. Kelemahan ini diperparah oleh sejumlah tantangan operasional yang dihadapi produsen di dalam negeri.

"Selain itu, pasar domestik juga menghadapi tantangan dari masuknya produk impor dengan harga murah. Produk-produk tersebut dinilai kerap tidak memenuhi standar kualitas maupun prinsip persaingan usaha yang setara, sehingga menekan industri dalam negeri yang telah memenuhi regulasi dan menyerap tenaga kerja," ujar Sobur.

Situasi pelemahan mata uang ini justru menciptakan beban ganda bagi pengusaha, yakni meningkatnya biaya produksi dan logistik, sementara daya saing ekspor tidak dapat dimaksimalkan sepenuhnya. Kondisi ini berpotensi menghilangkan nilai tambah ekspor sekaligus menggerus pasar domestik yang seharusnya menjadi penopang utama.

Pelaku industri mendesak pemerintah memanfaatkan momentum pelemahan Rupiah ini sebagai peringatan keras untuk segera melakukan pembenahan kebijakan industri secara menyeluruh. Penguatan industri berbasis nilai tambah domestik harus menjadi prioritas utama dibandingkan ketergantungan pada ekspor bahan mentah.