JAKARTA, BisnisMarket.com – Pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi tekanan hebat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di zona merah dan resmi menembus level psikologis baru, yakni di kisaran Rp18.032 hingga Rp18.066 per dolar AS.
Pelemahan ini menandai rekor terlemah nilai tukar rupiah sepanjang sejarah, memicu kekhawatiran meluas di kalangan pelaku pasar, investor, hingga masyarakat.
Catatan Historis: Penurunan ini menempatkan rupiah berada di jalur tren pelemahan mingguan berturut-turut, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja paling tertekan di Asia sepanjang tahun berjalan.
Mengapa Rupiah Anjlok Begitu Dalam?
Para analis ekonomi sepakat bahwa anjloknya nilai tukar rupiah kali ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akibat hantaman badai dari luar (eksternal) dan masalah dari dalam negeri (domestik). Berikut adalah tiga penyebab utamanya:
1. Ambruknya Surplus Neraca Perdagangan Domestik
Faktor internal paling signifikan datang dari rilis data makroekonomi Indonesia. Surplus neraca perdagangan yang biasanya menjadi benteng pertahanan rupiah mengalami penyusutan drastis.
Data terbaru menunjukkan surplus perdagangan hanya tercatat sebesar 0,09 miliar dolar AS, anjlok tajam dari bulan sebelumnya yang mampu mencapai 3,32 miliar dolar AS.
Penurunan ekspor yang ekstrem ini membuat pasokan dan likuiditas valuta asing (valas) di dalam negeri kering, sehingga fondasi penyokong rupiah melonggar.