JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda membayangkan sebuah institusi penegak hukum yang benar-benar bersih, transparan, dan akuntabel dalam setiap rekrutmen anggotanya? Sebuah gebrakan besar baru saja mengguncang Korps Bhayangkara, menandai babak baru dalam upaya reformasi Polri yang semakin serius dan menyentuh akar permasalahan. Kali ini, sorotan tajam diarahkan pada Akademi Kepolisian (Akpol), sebuah gerbang utama bagi para calon pemimpin masa depan Polri. Kabar mengejutkan datang: kuota khusus yang selama ini menjadi 'jalan pintas' bagi sebagian orang, kini resmi dihapuskan! Sebuah keputusan berani yang diprediksi akan mengubah lanskap penerimaan taruna Akpol selamanya.
Perubahan Fundamental: Menuju Polri yang Lebih Presisi
Reformasi di tubuh Polri seolah tak pernah berhenti. Setelah berbagai upaya perbaikan di berbagai lini, kini giliran sistem penerimaan calon taruna Akpol yang menjadi sasaran. Penghapusan kuota khusus ini bukan sekadar ganti nama atau sekadar formalitas, melainkan sebuah langkah strategis yang didasari oleh keinginan kuat untuk menciptakan institusi yang lebih profesional, adil, dan bebas dari intervensi yang tidak semestinya. Keputusan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas calon perwira yang dihasilkan, memastikan bahwa mereka yang terpilih benar-benar memiliki kompetensi, integritas, dan dedikasi yang tinggi.
Suara Sang Jenderal: Komitmen Tanpa Kompromi
Komitmen Polri dalam mewujudkan reformasi ini ditegaskan langsung oleh Anggota Komisi sekaligus Wakil Kepala Polri, Komisaris Jenderal (Purnawirawan) Ahmad Dofiri. Beliau secara gamblang menyatakan bahwa kepolisian telah dan akan terus menghapus keberadaan kuota khusus dalam penerimaan calon taruna Akpol. Ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah kebijakan yang telah dan akan terus diimplementasikan secara tegas.
"Kalau tadi rekrutmen, sekarang ada misalnya kuota khusus itu dihapus, kemudian sekarang harus menggunakan multi-aktor, panitianya itu bukan hanya dari internal Polri tetapi juga dari luar Polri. Nah, rigid nanti seperti itu," ujar Ahmad Dofiri kepada awak media, dikutip Rabu (06/05/2026). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa proses seleksi tidak lagi hanya melibatkan unsur internal Polri, tetapi juga pihak eksternal. Hal ini bertujuan untuk memastikan objektivitas dan akuntabilitas dalam setiap tahapan seleksi, meminimalisir potensi kecurangan atau permainan dalam rekrutmen.
Mekanisme Baru: Seleksi Ketat dan Transparan
Dengan dihapuskannya kuota khusus, sistem penerimaan calon taruna Akpol akan bertransformasi menjadi lebih ketat dan transparan. Penggunaan 'multi-aktor' dalam kepanitiaan menjadi kunci utama. Keikutsertaan pihak eksternal, seperti akademisi atau lembaga independen lainnya, diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih luas dan objektif dalam menilai setiap calon. Hal ini juga membuka peluang yang lebih besar bagi putra-putri terbaik bangsa dari berbagai latar belakang untuk bersaing secara sehat dan meraih kesempatan menjadi bagian dari Akpol.
Proses seleksi yang 'rigid' seperti yang diungkapkan oleh Jenderal Dofiri, menyiratkan adanya standar yang tinggi dan tahapan yang terstruktur. Mulai dari tes akademik, psikologi, kesehatan, kesamaptaan jasmani, hingga penelusuran rekam jejak, semuanya akan dilakukan secara cermat dan profesional. Tidak ada lagi celah bagi mereka yang tidak memenuhi kualifikasi atau mencoba mencari jalan pintas.