JAKARTA, BisnisMarket.com
– Siapa sangka, setelah berhari-hari melesat tinggi dan membuat banyak investor
tersenyum lebar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba berbalik arah dan
tergelincir ke zona merah. Di sesi pertama perdagangan Senin (22/6/2026),
indeks andalan pasar modal Indonesia ini tercatat melemah 1,91 persen ke angka
6.059. Pergerakan mengejutkan ini langsung menjadi pembicaraan hangat di
kalangan pelaku pasar, dan tentu saja memunculkan satu pertanyaan besar: apa
yang sebenarnya terjadi?
Mengapa Tiba-tiba Melemah? Ini Penyebab
Utamanya
Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong,
penurunan ini sebenarnya sudah bisa diduga, namun tetap mengejutkan karena
kecepatannya. Dilansir dari Bloomberg Technoz (22/6/2026), ia menjelaskan:
"Ini lebih pada aksi ambil untung setelah kenaikan yang cukup besar
belakangan ini."
Ya, benar saja. Setelah menguat tajam hingga 2,82
persen sepanjang pekan lalu dan menembus level psikologis 6.000, banyak
investor memilih mengamankan keuntungan yang sudah didapat. Logikanya
sederhana: saat harga sudah naik tinggi, momen terbaik adalah menjual sebagian
kepemilikan untuk mengunci hasil.
Namun, ada pemicu lain yang membuat tekanan makin
kuat. Ketidakpastian kembali muncul terkait proses perdamaian antara Iran dan
Amerika Serikat. Pasar saham sangat sensitif terhadap isu geopolitik, dan saat
situasi belum jelas, investor cenderung lebih berhati-hati dan memilih menarik
dana sementara waktu.
Lukman menambahkan, "Respons pasar masih sangat
beragam, sehingga investor belum meyakini apakah situasi di Timur Tengah itu
benar-benar membaik atau tidak." Keraguan inilah yang akhirnya memicu
gelombang penjualan.
Posisi Teknis: Sedang Istirahat atau Mulai
Turun Jauh?
Secara teknikal, IHSG kini memang sudah masuk fase
koreksi. Tim Riset MNC Sekuritas mencatat, meski Jumat lalu indeks sempat naik
tipis 0,08 persen ke 6.177 disertai volume beli, namun kekuatan itu mulai
menipis.
Dilihat dari pola gelombang harga, IHSG masih berada
dalam tahap penyesuaian, namun belum kehilangan potensi naik. Analisis
menunjukkan indeks masih berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 6.328
hingga 6.545 jika tekanan jual mereda.