BISNISMARKET.COM - Wacana penerapan kebijakan Work From Home (WFH) kembali mengemuka di tengah upaya pemerintah mencari solusi konkret untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Isu ini menjadi semakin relevan menyusul adanya dinamika geopolitik global, khususnya imbas dari konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Salah satu usulan menarik datang dari legislator di Senayan, yang mencoba memetakan hari efektif terbaik untuk menerapkan kebijakan kerja jarak jauh tersebut demi efisiensi energi nasional. Fokus utama adalah bagaimana memastikan kebijakan ini benar-benar berdampak pada penghematan tanpa menimbulkan dampak negatif sosial.
Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ahmad Irawan, secara spesifik mengajukan rekomendasi mengenai jadwal pelaksanaan WFH yang dianggap paling ideal. Ia menyarankan agar WFH tidak dilaksanakan terlalu sering, melainkan difokuskan pada satu hari tertentu dalam sepekan.
Ahmad Irawan menegaskan bahwa penetapan hari pelaksanaan WFH secara definitif tetap menjadi kewenangan penuh otoritas eksekutif atau pemerintah pusat. Meskipun demikian, ia memberikan pandangan berdasarkan potensi reaksi publik dan implementasi praktis di lapangan.
Dirinya secara tegas menyoroti potensi risiko jika hari Jumat yang dipilih sebagai hari untuk WFH. Menurut pandangannya, opsi tersebut justru dapat membuka celah bagi penyalahgunaan oleh masyarakat luas.
"Kalau WFH dilaksanakan hari Jumat, potensial hari tersebut digunakan justru untuk berwisata," kata Ahmad Irawan kepada wartawan pada hari Rabu (25/3/2026).
Kekhawatiran mendasar yang diutarakan oleh legislator tersebut adalah persepsi publik terhadap kebijakan tersebut. Ia khawatir WFH hari Jumat akan disalahartikan sebagai perpanjangan akhir pekan.
"Publik bisa menganggap jadi hari libur panjang," tegas Ahmad Irawan, menggarisbawahi pentingnya memilih hari yang minim potensi penyalahgunaan tersebut, dilansir dari sumber berita terkait.
Oleh karena itu, Ahmad Irawan mengusulkan agar hari Rabu menjadi hari tunggal penetapan WFH. Pemilihan hari tengah pekan ini diharapkan dapat memutus siklus kegiatan produktif tanpa memberikan kesempatan bagi pegawai untuk merencanakan perjalanan wisata yang panjang.