BISNIS MARKET — Hubungan yang terjalin selama delapan tahun antara Mohamed Salah dan Liverpool, sebuah kemitraan yang melahirkan trofi Liga Champions, Premier League, dan status legenda bagi sang pemain Mesir, kini berada di titik nadir. 

Sebuah wawancara terbuka yang emosional dari Salah telah mengguncang Anfield, mengisyaratkan bahwa kepergiannya dari klub—bahkan pada jendela transfer Januari 2026—bukan lagi sekadar rumor, melainkan kemungkinan nyata.

Situasi ini memuncak setelah Salah dicadangkan oleh Pelatih Arne Slot untuk ketiga kalinya secara beruntun dalam pertandingan Liga Inggris, diikuti dengan pencoretan namanya dari skuad Liga Champions melawan Inter Milan.

Dalam sebuah wawancara yang menjadi tajuk utama media olahraga global, Salah dengan terus terang mengungkapkan kekecewaannya. Ia merasa perlakuan yang diterimanya tidak adil, terutama setelah dedikasi besar yang ia berikan kepada klub.

"Saya sangat kecewa. Saya telah melakukan begitu banyak untuk klub ini, semua orang bisa melihatnya selama bertahun-tahun. Sekarang saya hanya duduk di bangku cadangan dan saya tidak tahu mengapa. Rasanya klub telah melempar saya ke bawah bus. Seolah-olah saya ingin dijadikan kambing hitam atas semua masalah tim."

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya keretakan mendalam, tidak hanya secara taktis dengan manajer baru, Arne Slot, tetapi juga secara personal dengan manajemen klub. 

Salah bahkan menyinggung adanya janji-janji yang tidak dipenuhi sejak perpanjangan kontraknya pada musim panas lalu, dan menuding ada pihak internal yang "ingin memojokkannya."

Inti dari krisis ini tampaknya adalah hubungan yang rusak antara Salah dan pelatih Belanda, Arne Slot.

"Dulu hubungan saya dengan manajer baik, tiba-tiba tidak ada hubungan," ujar Salah, mengomentari perlakuan Slot yang mencadangkannya dan mencoba format penyerangan baru tanpa dirinya.