MAKASSAR, BisnisMarket.com – Sebuah pengakuan mengejutkan kembali menggegerkan publik sepak bola tanah air. Seorang legenda yang pernah menjadi pujaan publik Stadion Mattoanging, PSM Makassar, yakni Wiljan Pluim baru-baru ini mengungkap kisah kelam di balik layar terkait upaya PSSI dalam menjaring pemain keturunan di Eropa pada masa lalu.
Dalam sebuah wawancara mendalam di media Belanda, Wiljan Pluim membeberkan bagaimana proses tawaran menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dibumbui dengan praktik yang tidak profesional.
Legenda PSM Makassar tersebut mengakui bahwa saat ia masih merumput di kasta tertinggi Liga Belanda (Eredivisie), pihak yang mengaku utusan dari PSSI sempat menghubunginya. Ia ditawari untuk membela Timnas Indonesia dengan iming-iming status bintang dan berbagai fasilitas.
"Saya mencintai Indonesia dan saya punya kenangan luar biasa di Makassar. Namun, saat itu tawaran yang datang terasa sangat ganjil," ungkapnya.
Poin paling krusial dalam pengakuannya adalah adanya dugaan "skandal paspor". Sang pemain menyebut bahwa oknum tertentu menjanjikan proses administrasi yang cepat namun melanggar aturan FIFA dan hukum internasional saat itu.
Ia menuturkan bahwa ada upaya untuk memanipulasi data atau mempercepat dokumen tanpa melalui prosedur legal yang benar di Belanda. Hal ini dilakukan demi ambisi instan membawa pemain berkualitas ke skuad Garuda tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi karier sang pemain di Eropa.
"Mereka ingin saya memiliki paspor Indonesia tanpa harus melepas paspor Belanda saya secara resmi pada waktu itu. Itu adalah tindakan yang sangat berisiko bagi karier profesional saya di Eropa," tambahnya.
Kisah ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana manajemen tim nasional di masa lalu dikelola. Jika dibandingkan dengan era sekarang yang jauh lebih transparan melalui jalur keturunan yang sah dan sesuai hukum, cerita dari sang legenda PSM ini membuka mata publik tentang betapa carut-marutnya birokrasi sepak bola kita di masa lalu.
Pihak PSSI saat ini belum memberikan tanggapan resmi terkait testimoni "borok" masa lalu yang dibuka oleh sang mantan pemain. Namun, para pendukung Juku Eja dan pecinta bola nasional ramai memperbincangkan hal ini di media sosial, menuntut transparansi agar sejarah kelam serupa tidak terulang kembali.