BISNISMARKET.COM - Beberapa waktu terakhir, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri mendadak ramai diperbincangkan usai tayangan sebuah program di stasiun televisi Trans7 dianggap melecehkan citra ulama sepuh dan kehidupan pesantren. Tayangan itu menampilkan potongan visual dan narasi yang dinilai tidak menghormati simbol keulamaan serta tradisi pesantren salaf. 

Spontan, ribuan santri, alumni, dan masyarakat yang memiliki keterikatan emosional dengan Lirboyo bereaksi keras. Di media sosial, tagar #BoikotTrans7 menjadi trending, disertai kecaman dan desakan agar pihak stasiun televisi meminta maaf secara terbuka. Lembaga Bantuan Hukum yang berafiliasi dengan organisasi keagamaan bahkan menyatakan siap memberikan peringatan hukum kepada pihak terkait.

Bagi kalangan santri, Lirboyo bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan simbol kehormatan dan warisan ulama yang dijaga turun-temurun. Maka ketika pesantren yang dikenal sangat menghormati adab dan guru ini disinggung secara tidak pantas, reaksi emosional menjadi hal yang tak terhindarkan.


Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo
Pondok Pesantren Lirboyo berdiri sekitar tahun 1910 di Kediri, Jawa Timur. Cikal bakalnya dimulai dari pengajian kecil yang diasuh oleh KH Abdul Karim, atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Manab. Beliau merupakan ulama asal Magelang yang dikenal zuhud dan berilmu tinggi. 

Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren ternama seperti Bangkalan dan Tebuireng, Mbah Manab memutuskan untuk menetap di daerah Lirboyo. Di tempat inilah ia mulai mengajar kitab kuning kepada masyarakat sekitar.

Semula, pengajian itu hanya diikuti beberapa santri, namun seiring waktu berkembang pesat hingga membentuk pondok yang terstruktur. Masjid menjadi bangunan pertama yang ia dirikan, diikuti oleh ruang belajar dan asrama santri. 

Sekitar tahun 1925, Mbah Manab mendirikan Madrasah Hidayatul Mubtadiin, lembaga pendidikan formal pertama di Lirboyo yang menggunakan sistem klasikal dengan jenjang belajar bertingkat. Meski demikian, metode sorogan dan bandongan tetap dipertahankan sebagai ciri khas pesantren salaf.


Sosok Pendiri: KH Abdul Karim (Mbah Manab)
KH Abdul Karim dikenal sebagai ulama sederhana yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan pendidikan. Beliau mengajarkan pentingnya adab sebelum ilmu, serta menanamkan keyakinan bahwa keberkahan ilmu diperoleh melalui keikhlasan dan penghormatan kepada guru. Banyak muridnya kemudian menjadi kiai besar dan mendirikan pesantren di berbagai daerah, menjadikan Lirboyo sebagai poros penting dalam jaringan pendidikan Islam di Jawa Timur.

Selain dikenal karena kedalaman ilmunya, Mbah Manab juga dihormati karena kesederhanaannya. Beliau menolak fasilitas berlebih, memilih hidup apa adanya di tengah santri, dan menekankan nilai tawadhu, ikhlas, serta khidmah dalam menuntut ilmu.