JAKARTA, BisnisMarket.com — Hitung mundur menuju Piala Dunia 2026—yang akan diselenggarakan di tiga negara Amerika Utara: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat—kini tidak hanya dihiasi oleh persiapan teknis stadion, melainkan juga oleh memanasnya tensi diskusi geopolitik global.

Sejumlah analis hubungan internasional, aktivis kemanusiaan, hingga pencinta sepak bola dunia mulai menyuarakan kritik keras terkait apa yang mereka sebut sebagai "standar ganda sistemis" yang diterapkan oleh federasi sepak bola dunia, FIFA, serta komunitas Barat terhadap Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah utama.

Kritik ini mencuat menyusul perbandingan kontras atas perlakukan yang diterima oleh tuan rumah turnamen-turnamen sebelumnya. Rusia dijatuhi sanksi boikot total dan dikeluarkan dari seluruh kompetisi FIFA pasca-invasi ke Ukraina pada 2022. Di sisi lain, Qatar menghadapi gelombang kampanye negatif, boikot media, serta interogasi moral yang masif sepanjang perhelatan Piala Dunia 2022 terkait isu hak pekerja imigran.

Namun, ketika membahas catatan hitam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, panggung sepak bola mendadak hening.

Para kritikus menilai ada bias berlapis yang membuat pelanggaran-pelanggaran hukum internasional oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat kerap "dimaklumi". Berikut adalah tiga poin utama yang memicu kontroversi tersebut:

Veto Politik dan Pembiaran Krisis Kemanusiaan: Langkah Washington yang berulang kali menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk memblokir resolusi gencatan senjata di berbagai konflik global dinilai berkontribusi langsung pada krisis kemanusiaan. Banyak pihak menilai, jika negara non-Barat melakukan tindakan serupa, sanksi olahraga akan langsung dijatuhkan.

Rekam Jejak Intervensi Militer Jangka Panjang: Sejarah mencatat keterlibatan militer AS di berbagai belahan dunia—mulai dari Irak, Afghanistan, hingga Libya—yang menyisakan ketidakstabilan regional menahun. Tidak pernah sekalipun FIFA atau komite olahraga internasional mempertimbangkan sanksi pembekuan federasi terhadap AS seperti yang dialami Rusia.

Aturan Visa dan Diskriminasi Akses Pendukung: AS dikenal memiliki kebijakan imigrasi dan visa yang sangat ketat. Banyak kekhawatiran bahwa suporter, jurnalis, bahkan delegasi resmi dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik baik dengan AS akan kesulitan mendapatkan akses masuk, sesuatu yang melanggar prinsip inklusivitas FIFA.

Slogan 'Sepak Bola Menyatukan Dunia' yang Dipertanyakan