BISNIS MARKET – Dalam lembaran sejarah Islam, peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan kilat melintasi ruang dan waktu. Salah satu momen paling dramatis dan penuh hikmah dalam perjalanan tersebut adalah pertemuan antara dua nabi besar, Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS, di langit keenam.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan menjadi penentu bagi beban ibadah yang dijalankan jutaan umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini.
Momen Haru di Langit Keenam
Diriwayatkan dalam hadits shahih, saat Nabi Muhammad SAW naik ke langit keenam ditemani Malaikat Jibril, beliau bertemu dengan sosok pria berkulit sawo matang, bertubuh tinggi, dan berambut ikal. Sosok itu adalah Nabi Musa AS.
Momen haru terjadi saat Nabi Muhammad beranjak meninggalkan langit keenam untuk menuju Sidratul Muntaha. Nabi Musa menangis. Saat ditanya alasannya, beliau menjawab: "Aku menangis karena ada seorang pemuda (Nabi Muhammad) yang diutus setelahku, namun jumlah umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku."
Para ulama menjelaskan bahwa tangisan ini bukanlah rasa iri, melainkan rasa haru dan penyesalan Musa karena tidak bisa membawa umatnya pada keberuntungan yang sama seperti umat Muhammad.
Negosiasi Salat 5 Waktu: Jasa Besar Nabi Musa
Puncak dari pertemuan ini terjadi setelah Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk melaksanakan salat 50 waktu dalam sehari semalam.
Saat Nabi Muhammad turun, ia kembali bertemu dengan Nabi Musa. Di sinilah dialog krusial itu terjadi: