BISNISMARKET.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa transisi menuju musim kemarau telah mulai terdeteksi di berbagai zona di Indonesia. Meskipun demikian, kondisi ini tidak serta-merta menghilangkan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di beberapa wilayah.

BMKG menjelaskan bahwa penurunan kelembapan atmosfer akibat dominasi massa udara yang lebih kering menjadi penyebab utama terbatasnya pembentukan awan hujan, terutama pada pagi hingga siang hari. Kondisi cuaca yang cenderung cerah memicu peningkatan radiasi matahari yang optimal, sehingga suhu udara maksimum ikut terkerek naik di beberapa provinsi.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan antara tanggal 4 hingga 7 Juni 2026, suhu maksimum tercatat melampaui batas 35 derajat Celsius di sejumlah provinsi. Wilayah yang mengalami kenaikan suhu signifikan ini meliputi Aceh, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, hingga Papua Barat.

Di sisi lain, meski terjadi peralihan musim, curah hujan dengan kategori lebat masih tercatat di beberapa lokasi. BMKG mencatat curah hujan harian tertinggi mencapai 82,7 milimeter di Sumatra Utara selama periode pengamatan tersebut.

"BMKG mencatat hujan harian tertinggi mencapai 82,7 milimeter di Sumatra Utara. Sementara itu, Maluku mencatat 64,0 milimeter per hari, Papua Barat 60,0 milimeter per hari, Kalimantan Barat 58,0 milimeter per hari, dan Papua 57,0 milimeter per hari," kutip BMKG.

Dalam analisis Potensi Hujan Indonesia untuk periode 9 hingga 15 Juni 2026, BMKG menekankan bahwa faktor atmosfer regional masih memegang peranan penting dalam memicu pembentukan awan hujan. Hal ini menunjukkan bahwa transisi musim tidak berjalan seragam di seluruh Nusantara.

Dua fenomena atmosfer utama yang teridentifikasi adalah Gelombang Rossby Ekuatorial yang memengaruhi Sumatra dan Kalimantan bagian selatan. Selain itu, Gelombang Kelvin juga terpantau aktif di perairan barat Sumatra Utara hingga Sumatra Barat, serta di sebagian Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Keberadaan gelombang-gelombang atmosfer tersebut dinilai mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan, sehingga peluang terjadinya hujan signifikan masih cukup besar di wilayah-wilayah yang terdampak oleh dinamika tersebut.

Dari perspektif iklim global, indikator ENSO masih menunjukkan kecenderungan fase hangat di Pasifik tropis bagian tengah dan timur, tercermin dari indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan SOI minus 20,3.